RADARSOLO.COM – Kampung Batik Laweyan di Kota Solo bukan sekadar pusat kerajinan batik, tetapi juga menyimpan sejarah panjang dan arsitektur unik yang menarik perhatian wisatawan.
Sebagai salah satu kampung batik tertua di Indonesia, Laweyan telah menjadi pusat industri batik sejak zaman Kerajaan Mataram Islam.
Menelusuri gang-gang sempit di Kampung Laweyan layaknya menjelajahi labirin bersejarah dengan pesona arsitektur kuno bergaya Jawa, Arab, Tionghoa, hingga kolonial Belanda.
Sejarah Kampung Batik Laweyan: Dari Tanah Perdikan hingga Pusat Batik Solo
Baca Juga: Bupati Lamongan Minta Maaf ke Pemkab Tuban atas Kerusuhan Suporter di Laga Persela vs Persijap
Kampung Laweyan bermula dari tanah perdikan yang dibuka oleh Kyai Ageng Henis, seorang tokoh penting di era Kesultanan Pajang pada abad ke-16.
Nama Laweyan sendiri berasal dari kata lawé, yang berarti bahan kain. Seiring waktu, kawasan ini berkembang menjadi pusat industri tekstil dan batik tulis khas Solo yang bertahan hingga kini.
Hingga saat ini, Kampung Batik Laweyan tetap menjadi ikon budaya batik Solo, di mana banyak pengrajin batik meneruskan warisan leluhur mereka.
Jelajahi Labirin Gang-Gang Sempit dengan Arsitektur Kuno
Baca Juga: Kevin Diks Bersinar di Eropa! Bawa FC Copenhagen Lolos 16 Besar, Cetak 1 Gol dan 1 Assist
Selain terkenal dengan batiknya, Kampung Laweyan juga memiliki arsitektur khas yang memadukan gaya Jawa, Islam, Arab, dan kolonial Belanda.
Salah satu ciri khasnya adalah gang-gang sempit yang layaknya sebuah labirin dengan tembok-tembok tinggi.
Konon, tembok tinggi ini dahulu digunakan untuk menjaga rahasia dan teknik batik yang dimiliki setiap keluarga.
Di beberapa gang, wisatawan bisa menemukan langgar kayu di lantai dua, yang dahulu digunakan para pekerja batik untuk menjalankan salat tanpa harus keluar kampung.
Tak hanya itu, banyak rumah di Laweyan juga memiliki bunker tersembunyi, yang pada masanya digunakan untuk menyimpan harta benda dan koleksi batik berharga.
Pintu-Pintu Rahasia di Rumah Batik Laweyan
Salah satu keunikan rumah-rumah di Kampung Laweyan adalah adanya dua jenis pintu masuk.
Dimana pintu utama hanya digunakan oleh tuan rumah, keluarga, dan tamu kehormatan.
Sedangkan pintu kecil di sisi rumah digunakan oleh pegawai batik dan tamu biasa
Pintu kecil ini dibuat lebih rendah, sehingga siapa pun yang masuk harus menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik rumah.
Semakin dalam menjelajahi gang-gang Kampung Laweyan, semakin terasa atmosfer masa lalu yang masih terjaga. (dam)
Editor : Damianus Bram