Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Bukit Jabal Kanil Tawangmangu, Jejak Syekh Maulana Maghribi di Karanganyar: Terdapat Masjid Tiban yang Ada Sejak 700 Tahun Lalu

Rudi Hartono RS • Sabtu, 19 Juli 2025 | 21:04 WIB
Masjid tiban yang dipercaya peninggalan Syekh Maulana Maghribi di Bukit Jabal Kanil, Tawangmangu, Karanganyar. (Dokumentasi Pemkab Karanganyar)
Masjid tiban yang dipercaya peninggalan Syekh Maulana Maghribi di Bukit Jabal Kanil, Tawangmangu, Karanganyar. (Dokumentasi Pemkab Karanganyar)

RADARSOLO.COM - Lereng Gunung Lawu Karanganyar memang tak pernah kehabisan cerita.

Selain panorama alam yang memukau, kawasan ini juga menyimpan destinasi religi sarat sejarah dan spiritualitas.

Salah satunya yakni Bukit Jabal Kanil, sebuah titik sunyi yang menampung gema dakwah Islam masa silam.

Lokasinya berada di Dusun Jabal Kanil, Desa Bandar Dawung, Kecamatan Tawangmangu.

Tak sekadar menjadi tempat peristirahatan terakhir tokoh penting, kawasan ini disebut sebagai pusat awal penyebaran Islam di tanah Jawa, bahkan sebelum era Wali Songo.

"Tempat ini bukan sekadar lokasi ziarah, tapi menyimpan makna sejarah Islam yang dalam. Ada energi positif yang bisa dirasakan,” tutur Wawan Lelono, salah satu peziarah yang rutin datang ke Jabal Kanil.

Di area Jabal Kanil, pengunjung akan menemukan kompleks makam dan mushola kuno yang diyakini sebagai petilasan Syekh Maulana Maghribi.

Dia adalah ulama asal Timur Tengah yang disebut-sebut sebagai pelopor dakwah Islam di kawasan ini.

Jalan setapak menuju Bukit Jabal Kanil. (Dokumentasi Pemkab Karanganyar)
Jalan setapak menuju Bukit Jabal Kanil. (Dokumentasi Pemkab Karanganyar)

Mushola tua itu masih berdiri kokoh di lokasi. Bahkan empat tiang kayu jati berusia ratusan tahun terlihat masih menyangga bangunan utama.

Menurut warga, tiang-tiang ini sudah ada sejak 600–700 tahun lalu dan dipercaya menyimpan tuah spiritual.

Tak jauh dari situ, berdiri pula Masjid Kuno Jabal Kanil.

Meski sempat direnovasi, unsur bangunan asli dari kayu, terutama pilar-pilar penyangganya, tetap dipertahankan.

Setiap malam Jumat Kliwon dan Jumat Legi, kawasan ini selalu ramai peziarah.

Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia, bahkan mancanegara seperti Belanda dan Afghanistan.

Hal ini menunjukkan bahwa Jabal Kanil tak hanya penting secara lokal, tapi juga telah menjadi destinasi spiritual yang mendunia.

“Banyak yang datang untuk tirakat, ngalap berkah, atau sekadar menyepi,” ujar salah satu juru kunci di dekat lokasi.

Selain nilai sejarah, Jabal Kanil juga menyimpan kisah-kisah mitologis yang menguatkan posisi situs ini dalam budaya lokal.

Salah satunya adalah cerita duel kesaktian antara Syekh Maulana Maghribi dan Begawan Selapawening.

Keduanya berebut wilayah Jabal Kanil melalui adu pancing.

Hasilnya, Syekh Maghribi memenangkan adu tersebut dengan memancing ikan yang langsung matang.

Konon, walesan pancing yang digunakan ditancapkan di tanah dan tumbuh menjadi rumpun bambu Sentana atau dikenal juga sebagai bambu Pamancingan.

Rumpun ini masih bisa dilihat hingga hari ini di sekitar kompleks pesantren.

Tak hanya itu, empat tiang masjid kuno juga dipercaya memiliki tuah.

Beberapa peziarah bahkan sempat nekat mengambil serpihannya untuk dijadikan jimat. Meski hal ini tidak dianjurkan dalam ajaran Islam.

Dengan latar alam yang sejuk khas lereng Gunung Lawu, suasana Jabal Kanil begitu tenang dan damai.

Pepohonan rindang, embusan angin yang lembut, serta aroma tanah basah membuat pengalaman spiritual di sini makin terasa khusyuk.

Bagi yang ingin merasakan wisata religi yang berbeda, Jabal Kanil adalah tempat yang tepat.

Tak hanya berziarah, pengunjung bisa menyusuri tapak-tapak sejarah dakwah Islam sekaligus menikmati keindahan alam yang masih alami. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
#tawangmangu #islam #karanganyar #Syeikh Maulana Maghribi #Masjid Tiban #Bukit Jabal Kanil #Wali Songo