RADARSOLO.COM- Petilasan Kebo Kanirogo merupakan sebuah situs bersejarah yang saat ini masih berdiri kokoh di Boyolali.
Selain bernilai sejarah, petilasan Kebo Kanigoro tersimpan banyak mitos yang sampai saat ini masih hidup di tengah masyarakat.
Sejarah Petilasan Kebokanigoro
Situs bersejarah ini berada di Dusun Pojok, Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali dengan jarak tempuh sekitar 22 kilometer dan memerlukan waktu tempuh sekitar 40 menit dari pusat kota Boyolali.
Pengunjung dapat mengikuti rute dengan melewati Jalan Magelang-Boyolali menuju Selo.
Sesampainya di Selo, terdapat petunjuk arah menuju Jalan Ki Kebokanirogo.
Pengunjung dapat belok kanan dan terus mengikuti Jalan Ki Kebokanirogo sampai berada di tujuan utama yakni Petilasan Kebo Kanirogo.
Menurut informasi dari warga setempat, Petilasan Kebo Kanirogo adalah salah satu tempat yang dijadikan sebagai sarana untuk bersemedi.
Masyarakat percaya bahwa petilasan ini juga dapat mengabulkan hajat dari para peziarah yang datang.
Kebo Kanigoro merupakan putra dari Ki Ageng Pengging Sepuh serta cucu dari raja terakhir Majapahit yakni Raja Brawijaya.
Raden Kebo Kanigoro dipercaya merupakan keturunan bangsawan yang memilih untuk menjauh dari politik keraton.
Menjadi murid dari tokoh penyebar agama Islam yaitu Syeikh Siti Jenar.
Baca Juga: 10 Hidden Gem dan Wisata Instagramable di Magelang
Ajaran dari Syeikh Siti Jenar ternyata dianggap menyimpang oleh Wali Songo dan Kasultanan Demak.
Syeikh Siti Jenar bersama para pengikutnya termasuk Kebo Kanigoro pun memutuskan untuk menepi di lereng Gunung Merapi.
Di lereng Merapi inilah Kebo Kanigoro melakukan meditasi yang dinamakan dengan “Tapa Brata” untuk meminta perlindungan dari Tuhan.
Tempat meditasinya kini dijadikan sebagai sebuah nama daerah yakni Dusun Pojok yang sampai saat ini masih dihuni oleh masyarakat dan juga disebut sebagai Petilasan dari Kebo Kanigoro.
Mitos Petilasan Kebokanigoro
Masyarakat percaya tentang sebuah mitos muksa. Kebo Kanigoro disebut-sebut meninggal tidak seperti manusia biasa.
Ia menghilang bersama raganya yang konon merupakan sebuah usaha terakhir untuk menghindari kejaran musuh.
Dari mitos ini, petilasan Kebokanigoro semakin dipercaya sebagai petilasan sakral yang memiliki energi spiritual.
Tradisi Sedekah Bumi Setiap Malam 1 Suro
Di setiap tahunnya, tepatnya pada malam 1 Suro para warga Samiran menggelar sedekah bumi sebagai rasa syukur atas nikmat yang melimpah.
Tradisi ini biasanya dimulai dari Goa Raja berjalan sampai ke Petilasan Ki Ageng Kebo Kanirogo.
Petilasan Kebokanirogo saat ini telah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Boyolali yang banyak dikunjungi oleh peziarah dengan berbagai tujuan. (mg1/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono