Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Objek Wisata Pilihan Isi Liburan di Solo Raya: Candi Sukuh, "Piramida" Misterius di Lereng Lawu, Warisan Terakhir Kejayaan Majapahit

Tri wahyu Cahyono • Kamis, 25 Desember 2025 | 18:50 WIB
Candi Sukuh, candi di Karanganyar yang arsitekturnya mirip dengan bangunan Suku Maya.
Candi Sukuh, candi di Karanganyar yang arsitekturnya mirip dengan bangunan Suku Maya.

RADARSOLO.COM–Tak perlu jauh-jauh ke Mesir atau Amerika Tengah untuk melihat bangunan berbentuk piramida.

Di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, berdiri kokoh situs purbakala yang unik bernama Candi Sukuh.

Candi ini mencuri perhatian dunia karena bentuk arsitekturnya yang menyerupai piramida terpotong.

Sangat mirip dengan situs peninggalan suku Maya di Meksiko.

Berjarak sekitar 38 kilometer dari Kota Solo, situs ini dapat dicapai dengan perjalanan darat selama kurang lebih satu jam melalui jalur yang asri dan menanjak.

Simbolisme Spiritual dan Keunikan Arsitektur

Candi Sukuh diperkirakan dibangun pada abad ke-15 Masehi, di masa-masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit.

Keberadaannya dianggap sebagai "warisan terakhir" kebudayaan Hindu di Jawa sebelum pengaruh Islam menyebar luas.

Situs ini memiliki struktur kompleks yang terbagi dalam tiga tingkatan teras, melambangkan perjalanan spiritual manusia menuju penyucian diri.

Beberapa keunikan yang menjadi daya tarik utama Candi Sukuh antara lain:

Filosofi Lingga dan Yoni: Pada gapura pintu masuk, terdapat relief alat kelamin laki-laki (lingga) dan perempuan (yoni) yang saling berhadapan.

Dalam filosofi Tantra, ini bukan hal vulgar, melainkan simbol kesuburan, siklus hidup, dan sarana penyucian diri bagi siapa pun yang melangkah masuk ke area suci.

Baca Juga: Destinasi Pilihan Libur Nataru: Menemukan Ketenangan dan Sejarah Jawa di Astana Temuireng Karanganyar

Relief Sudamala dan Garudheya: Mengisahkan tentang pembebasan kutukan dan pencarian air suci keabadian (amrta), yang mempertegas fungsi candi sebagai tempat ruwatan atau pembersihan diri dari malapetaka.

Arca Kura-Kura Raksasa: Di bagian puncak, terdapat arca kura-kura besar yang diyakini berfungsi sebagai altar persembahan atau tempat menaruh sesaji.

Kini, Candi Sukuh tetap lestari dan mengemban beberapa peran penting:

Suasananya yang sejuk dan pemandangan yang memukau menjadikan Candi Sukuh magnet bagi turis domestik maupun mancanegara yang mencari latar foto autentik dan magis.

Sebagai situs yang dilindungi, candi ini menjadi laboratorium hidup bagi para peneliti sejarah dan arkeologi untuk membedah silsilah serta kebudayaan masa transisi Majapahit.

Hingga kini, Candi Sukuh masih digunakan oleh penganut ajaran Hindu dan penghayat kepercayaan untuk bermeditasi atau melakukan ritual. (wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#natal #karanganyar #liburan #tahun baru #Candi Sukuh #objek wisata