RADARSOLO.COM - Kompleks Candi Prambanan tak hanya identik dengan kemegahan Candi Siwa, Wisnu, dan Brahma. Di balik ikon wisata dunia itu, kawasan Prambanan ternyata menyimpan puluhan situs cagar budaya yang tersebar luas, baik di wilayah Kabupaten Sleman (DIJ) maupun Kabupaten Klaten (Jawa Tengah).
Kawasan Prambanan bisa disebut sebagai salah satu lanskap arkeologi terpadat di Jawa. Dalam satu kecamatan saja, jejak peradaban Hindu dan Buddha abad ke-8 hingga ke-10 Masehi tersebar di desa-desa, ladang, hingga pekarangan warga.
Redaktur Jawa Pos Radar Solo Nikko Auglandy sempat membuat sebuah project bertajuk Nyariwatu untuk mencari beberapa situs kuno yang berada di pulau Jawa, beberapa tahun lalu. Menariknya banyak ditemukan candi marjinal, maupun sisa bekas situs kuno di sekitar Prambanan.
Di wilayah Klaten, misalnya, terdapat sejumlah situs penting seperti Candi Lumbung, Candi Bubrah, Candi Gana, Candi Plaosan Lor dan Kidul, hingga sejumlah temuan batu candi yang masih terus didata.
Sementara di wilayah Prambanan, Sleman, sebaran situs cagar budaya jauh lebih kompleks. Mulai dari situs berupa sisa batu candi, yoni, lingga, arca, hingga kompleks candi besar yang masih berdiri kokoh.
Beberapa situs di wilayah Sumberharjo, Prambanan, mencatat temuan penting. Situs Sorogedug dan Grogol, misalnya, menyimpan batu-batu candi yang menjadi penanda keberadaan bangunan suci di masa lalu.
Situs Polangan dan Sawo (Sawoek) bahkan menyimpan fragmen yoni, antefik, hingga makara yang menunjukkan karakter bangunan bercorak Hindu.
Tak jauh dari sana, Situs Krapyak menjadi salah satu lokasi penting. Sejumlah literatur lama menyebutkan ditemukannya arca Durga, Nandi, hingga yoni di kawasan ini.
Luas permukaan situs yang mencapai sekitar 50 meter memperkuat dugaan bahwa kawasan ini dulunya merupakan kompleks peribadatan.
Di wilayah Bokoharjo dan Sambirejo, Prambanan, jejak cagar budaya semakin rapat.
Candi Banyunibo yang bercorak Buddha masih berdiri relatif utuh. Tak jauh dari situ, Candi Ijo menjulang di puncak perbukitan sebagai kompleks Hindu terbesar di kawasan tersebut, lengkap dengan candi induk dan candi perwara.
Kompleks Ratu Boko juga menjadi bukti penting perpaduan fungsi keagamaan dan pemerintahan. Situs ini memuat struktur bangunan yang beragam, mulai dari gapura, pendapa, hingga area ritual Hindu dan Buddha.
Selain candi-candi yang masih tampak, banyak situs yang kini hanya menyisakan fragmen. Situs Watu Gedig, misalnya, diyakini sebagai bekas pendopo kuno yang di sekitarnya ditemukan batu-batu candi dan arca Amitabha.
Ada pula Situs Gatak yang menyimpan tiga yoni besar serta temuan peripih berisi fragmen emas dan benda ritual.
Jejak peradaban Buddha juga kuat terlihat di Situs Dawangsari dan Sumberwatu. Di kawasan ini ditemukan sisa stupa, arca Buddha, hingga prasasti bertahun 856 Masehi yang menjadi penanda penting aktivitas keagamaan masa lalu.
Tak sedikit pula situs yang kini nyaris hilang akibat perkembangan zaman. Situs Grembyangan, Candi Gajah, hingga Candi Tinjon disebut dalam literatur abad ke-19, namun kini sebagian besar tinggal catatan sejarah dan temuan batu yang tersebar.
Sebaran situs di wilayah Madurejo juga tak kalah padat. Candi Bubrah, Candi Singo, hingga Situs Macanan memperlihatkan bahwa kawasan ini dulunya menjadi bagian penting dari jaringan candi Prambanan.
Banyak di antaranya menyimpan arca Durga, Ganesa, yoni, serta batu-batu antefik yang menjadi ciri arsitektur klasik Jawa.
Kepadatan situs di kawasan Prambanan menunjukkan bahwa wilayah ini bukan sekadar pusat satu kompleks candi, melainkan sebuah kawasan peradaban besar.
Tantangan ke depan bukan hanya menjaga candi yang sudah populer, tetapi juga melindungi puluhan situs kecil yang tersebar di tengah permukiman warga agar tidak hilang ditelan zaman. (nik)
Editor : Niko auglandy