Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Jejak Sejarah Dalem Joyokusuman: Rumah Bangsawan Berusia Hampir 2 Abad dengan Arsitektur Unik Magnet Anak Muda

Kabun Triyatno • Senin, 29 Juni 2026 | 05:30 WIB
Tidak hanya para peneliti sejarah, anak muda pun kini penasaran dengan Dalem Joyokusuman. (Arief Budiman/Radar Solo)
Tidak hanya para peneliti sejarah, anak muda pun kini penasaran dengan Dalem Joyokusuman. (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di tengah derasnya modernisasi Kota Solo, sebuah rumah bangsawan Jawa masih berdiri anggun di balik tembok bata merah kawasan Baluwarti, Pasar Kliwon. Namanya Dalem Joyokusuman. Bangunan yang telah berusia lebih dari satu setengah abad itu bukan hanya saksi sejarah Keraton Surakarta, tetapi juga bukti bahwa warisan budaya masih mampu menarik perhatian generasi digital.

Begitu memasuki kompleks ndalem, suasana kota seolah tertinggal di belakang. Di depan pendapa, air mancur berdiri tenang di bawah rindangnya pohon-pohon tua yang telah berumur puluhan tahun. Dinding bata merah yang mengelilingi kawasan mempertegas nuansa klasik, menghadirkan kesan seolah pengunjung sedang melangkah masuk ke lorong waktu menuju masa lampau.

Baca Juga: Bidik Dalem Joyokusuman Untuk Wellness Tourism, Pemkot Solo Geber Festival Jawa-Jawi

Semakin masuk ke bagian dalam, suasana terasa kian hening. Sebuah kolam ikan menghiasi halaman, berdampingan dengan sumur tua yang hingga kini masih digunakan. Di sejumlah sudut tersimpan artefak budaya berupa arca Ganesha, Durga, Lingga-Yoni, hingga lumpang batu yang menjadi penanda panjangnya perjalanan sejarah tempat ini.

Kurator sekaligus pengelola Dalem Joyokusuman Bagus Joko Jendro Baskoro menjelaskan, bangunan tersebut dahulu merupakan kediaman Pangeran Joyokusumo, putra Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) X. Didirikan pada 1849, ndalem ini menjadi rumah keluarga bangsawan Keraton Surakarta.

Baca Juga: Menjaga Napas Wayang Beber: Wakil Wali Kota Solo Sambangi Ndalem Atmo Supomo, Siapkan Panggung di Pasar Kliwon Pascalebaran

“Dulu ini memang rumah milik Pangeran Joyokusumo,” ujarnya.

Keterangan tersebut diperkuat oleh peneliti sejarah dan budaya Ega Azaria Erlangga. Menurutnya, Ndalem Joyokusuman merupakan salah satu dalem pangeranan atau kediaman keluarga pangeran Keraton Surakarta yang berada di kawasan Baluwarti. Keberadaan bangunan ini telah tercatat sejak 1849, sebagaimana tertulis pada pintu Dalem Ageng yang menjadi inti kompleks bangunan.

Ega menjelaskan, sebelum dikenal sebagai Ndalem Joyokusuman, bangunan tersebut awalnya dimiliki KGPH Kusumabrata, putra Sinuhun PB V. Seiring pergantian generasi, kepemilikan kemudian beralih kepada KGPH Mr. Joyokusumo pada masa pemerintahan PB X.

Baca Juga: Ini Dia Sendang Ndalem Seniyor yang Ada di Karanganyar, Garden & Resto di Lereng Gunung Lawu yang Suguhkan Beragam Fasilitas

“Pangeran Joyokusumo merupakan salah satu putra Sinuhun Paku Buwono X yang cukup berpengaruh. Beliau merupakan lulusan hukum dari Belanda dan mendapat gelar Meester in de Rechten,” ujar Ega, alumnus Magister Kajian Budaya Universitas Sebelas Maret yang pernah meneliti Ndalem Joyokusuman.

Berbekal latar pendidikan modern dan kedekatannya dengan lingkungan pemerintahan kolonial, Joyokusumo dikenal sebagai salah satu bangsawan keraton yang memiliki posisi penting pada masanya. Nama sang pangeran kemudian melekat pada bangunan tersebut dan terus bertahan hingga kini, menjadikan Ndalem Joyokusuman sebagai salah satu penanda sejarah penting perjalanan keluarga Keraton Surakarta.

Namun perjalanan Dalem Joyokusuman tidak selalu mulus. Setelah tak lagi ditempati keluarga kerajaan, bangunan ini berpindah tangan kepada juragan batik Solo, Malkan Sangidu. Kepemilikan kemudian beralih kepada Widjanarko Puspoyo sekira 2004. Saat pemilik terakhir terseret kasus korupsi Bulog, bangunan tersebut ikut menjadi aset sitaan negara dan berada di bawah pengawasan kejaksaan.

Babak baru dimulai ketika pengelolaan Dalem Joyokusuman dialihkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot Solo) melalui dinas kebudayaan dan pariwisata. Sekira 2016–2017, bangunan ini direvitalisasi dan dikembangkan menjadi rumah budaya yang terbuka bagi publik.

Keistimewaan Ndalem Joyokusuman tidak hanya terletak pada sejarah kepemilikannya. Bangunan ini juga menjadi salah satu ndalem yang masih mempertahankan struktur rumah bangsawan Jawa secara relatif utuh.

Di bagian paling depan terdapat pendapa yang dahulu digunakan untuk menerima tamu, menggelar pertemuan, hingga pertunjukan kesenian. Di belakangnya terdapat pringgitan sebagai ruang penghubung menuju bangunan utama. Pada masa lalu, area ini kerap digunakan untuk pementasan wayang kulit maupun menerima tamu tertentu.

Pringgitan diapit Bale Warni dan Bale Peni yang menjadi ruang aktivitas keluarga sekaligus tempat menerima tamu dengan tingkat privasi lebih tinggi.

Jantung bangunan berada di Dalem Ageng. Ruang utama ini menjadi pusat kehidupan keluarga bangsawan. Di dalamnya terdapat tiga senthong, yakni Sentong Kiwa, Sentong Tengah atau krobongan, serta Sentong Tengen.

Di antara ketiganya, Sentong Tengah memiliki kedudukan paling sakral. Dahulu ruang ini digunakan untuk menyimpan pusaka keluarga serta perlengkapan yang berkaitan dengan tradisi dan penghormatan kepada leluhur.

Pada sisi kanan dan kiri kompleks berdiri Gandok Kiwa dan Gandok Tengen, bangunan memanjang yang umumnya difungsikan sebagai tempat tinggal anggota keluarga maupun abdi dalem. Sementara di bagian belakang terdapat gadri sebagai ruang makan dan tempat berkumpul keluarga, yang terhubung dengan pawon atau dapur sebagai area penunjang kebutuhan rumah tangga.

“Tidak semua ndalem masih punya struktur yang lengkap seperti ini,” kata Bagus.

Selain mempertahankan tata ruang tradisional, Dalem Joyokusuman juga menyimpan tujuh sumur yang sebagian masih aktif digunakan. Salah satu yang paling dikenal adalah Sumur Putih yang dipercaya memiliki nilai simbolik dan kerap dimanfaatkan dalam berbagai keperluan adat, termasuk prosesi pernikahan.

Kini, fungsi Ndalem Joyokusuman telah bertransformasi. Dari rumah bangsawan, bangunan ini menjelma menjadi rumah budaya yang hidup. Berbagai kegiatan seni rutin digelar, mulai dari latihan tari, workshop, teater, drama musikal, berbagai event budaya hingga pertunjukan orkestra.

Menariknya, pengunjung yang datang tidak hanya kalangan pegiat budaya. Dalam beberapa tahun terakhir, anak-anak muda justru menjadi kelompok yang paling banyak mengenal Ndalem Joyokusuman. Media sosial, terutama TikTok, menjadi pintu masuk mereka untuk menemukan bangunan bersejarah ini.

Mereka datang untuk membuat konten, berfoto, melakukan sesi prewedding, hingga dokumentasi wisuda. Fenomena itu menunjukkan bahwa bangunan heritage masih memiliki ruang di tengah budaya digital yang serba cepat.

Di Dalem Joyokusuman, sejarah tidak berhenti menjadi kenangan. Dia terus hidup melalui aktivitas seni, interaksi masyarakat, dan rasa ingin tahu generasi muda yang datang untuk mengenal masa lalu. Dari rumah seorang pangeran, sempat menjadi aset sitaan negara, hingga kini menjelma ruang budaya publik, Ndalem Joyokusuman membuktikan bahwa warisan sejarah bisa tetap relevan di setiap zaman. (luthfiana sekar/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#artefak budaya #keraton surakarta #Ndalem Joyokusuman #modernisasi #pangeran