RADARSOLO.COM Tak hanya dikenal sebagai bangsawan Keraton Surakarta, Pangeran Joyokusumo juga meninggalkan jejak penting dalam perkembangan pendidikan seni di Kota Solo. Ia tercatat sebagai pendiri Konservatori Karawitan (KOKAR), lembaga yang kemudian berkembang menjadi Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) dan kini bertransformasi menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Warisan sang pangeran tak hanya tersimpan dalam sejarah pendidikan seni. Jejaknya juga masih terasa kuat di Dalem Joyokusuman, rumah bangsawan yang hingga kini tetap berdiri di kawasan Baluwarti.
Baca Juga: Keris sebagai Sarana Meditasi di Era Modern, seperti apa?
Peneliti sejarah dan budaya Ega Azaria Airlangga menjelaskan, pada masa lalu tidak semua orang dapat memasuki Dalem Pangeranan. Bangunan seperti Ndalem Joyokusuman merupakan ruang yang sangat eksklusif, hanya dapat diakses keluarga bangsawan keraton beserta para abdi dalem yang bertugas di dalamnya.
Bagi masyarakat umum, keberadaan dalem pangeranan kala itu bukan sekadar rumah tinggal. Bangunan tersebut menjadi simbol kedudukan sosial, kekuasaan, sekaligus prestise pemiliknya.
“Dalem Pangeranan, selain sebagai tempat tinggal, juga merupakan simbol status sosial yang terlihat dari tata ruangnya yang lengkap menurut aturan rumah Jawa,” ujar Ega, alumnus Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) yang pernah meneliti Dalem Joyokusuman.
Baca Juga: Bidik Dalem Joyokusuman Untuk Wellness Tourism, Pemkot Solo Geber Festival Jawa-Jawi
Status sosial itu tercermin dari susunan ruang yang tertata berlapis. Mulai dari pendapa sebagai ruang publik, pringgitan sebagai area transisi, Dalem Ageng sebagai pusat hunian, sentong yang bersifat lebih privat dan sakral, hingga gandok yang berfungsi sebagai ruang penunjang. Tata ruang tersebut menunjukkan adanya hierarki sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa pada masa lalu.
Salah satu keunikan Dalem Joyokusuman, lanjut Ega, terletak pada gerbang utamanya. Ukuran gerbang yang besar dan megah menjadikannya berbeda dibanding sebagian besar dalem pangeranan lainnya di Kota Solo. Menariknya, gerbang tersebut memperlihatkan pertemuan dua kebudayaan yang berbeda. Pilar-pilar bangunan mengadopsi gaya Tuscan khas Eropa, sementara bagian atap tetap mempertahankan bentuk joglo sebagai identitas arsitektur Jawa.
Baca Juga: Dulu Bikin Kagum, Sekarang Seperti ini Kondisi Ndalem Sasana Mulya di Kompleks Keraton Solo
Perpaduan tersebut menjadi bukti bahwa proses akulturasi budaya telah berlangsung di lingkungan Keraton Surakarta sejak abad ke-19. Kini, Dalem Joyokusuman menjalani babak yang sangat berbeda. Jika dahulu menjadi ruang privat yang hanya dapat dimasuki kalangan tertentu, kini bangunan tersebut terbuka untuk masyarakat luas sebagai rumah budaya.
Bagi Ega, perubahan fungsi tersebut justru menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga keberlangsungan bangunan cagar budaya.
“Perubahan fungsi bangunan cagar budaya merupakan langkah yang bagus untuk membuat bangunan itu tetap hidup, asalkan tidak mengubah bentuk fisiknya secara frontal,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menilai bangunan heritage tidak boleh hanya diperlakukan sebagai benda mati yang dipamerkan. Ruang-ruang sejarah seperti Dalem Joyokusuman harus terus dikenalkan kepada generasi muda agar menjadi sarana memahami identitas budaya bangsa.
Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, pemahaman terhadap sejarah dan budaya lokal dinilai penting agar generasi muda tidak kehilangan pijakan identitasnya.
“Kesadaran akan budaya bangsa penting bagi generasi muda agar tidak merasa kosong dan akhirnya hanya ikut budaya yang sedang tren,” tutur Ega. (lutfiana sekar/bun)
Editor : Kabun Triyatno