RADARSOLO.COM - DI balik tembok-tembok tua Dalem Joyokusuman, tersimpan lebih dari sekadar kisah seorang pangeran. Bangunan yang berdiri sejak abad ke-19 itu menyimpan jejak tentang bagaimana masyarakat Jawa menata kekuasaan, membangun kewibawaan, dan memaknai status sosial.
Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Tundjung W Sutirto mengatakan, Dalem Joyokusuman tidak bisa dipandang hanya sebagai rumah bangsawan yang bertahan di tengah modernisasi Kota Solo.
Baca Juga: Keris sebagai Sarana Meditasi di Era Modern, seperti apa?
Menurutnya, bangunan tersebut merupakan sebuah “teks budaya” yang merekam berbagai lapisan kehidupan masyarakat Jawa pada masanya.
“Dalem Joyokusuman sebagaimana dalem pangeranan di Kota Solo merupakan teks budaya yang dapat memberikan narasi tentang sejarah sosial masyarakat terkait status, stratifikasi, dan kewibawaan,” ujar Tundjung yang juga ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sukoharjo.
Baca Juga: Bidik Dalem Joyokusuman Untuk Wellness Tourism, Pemkot Solo Geber Festival Jawa-Jawi
Sebagai salah satu dalem pangeranan yang masih bertahan, Ndalem Joyokusuman menjadi representasi kehidupan aristokrasi Jawa yang pernah berkembang di Kota Solo. Rumah seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga bangsawan, tetapi juga menjadi simbol relasi kuasa dan struktur sosial yang berlaku di lingkungan keraton.
Pada masa lalu, tidak semua orang dapat memasuki ruang-ruang di dalamnya. Setiap bagian bangunan memiliki fungsi, aturan, dan tingkat akses yang berbeda. Dari pendapa yang bersifat lebih terbuka, pringgitan sebagai ruang transisi, hingga Dalem Ageng yang menjadi pusat kehidupan keluarga bangsawan, semuanya mencerminkan tata nilai yang hidup dalam budaya Jawa.
Baca Juga: Dalem Padmosusastro Rata dengan Tanah: Ahli Waris Gugat Hilangnya Koleksi Buku Langka Rp 40 Miliar
“Sebagai rumah pangeran, bangunan ini sarat filosofi yang menggambarkan kosmologi Jawa dan stratifikasi ruang dalam budaya keraton,” jelasnya.
Bagi Tundjung, nilai penting sebuah bangunan heritage tidak hanya terletak pada usia atau bentuk fisiknya. Yang jauh lebih berharga adalah memori sejarah yang melekat di dalamnya.
Setiap ruang menyimpan cerita. Setiap sudut menjadi saksi berbagai peristiwa yang pernah berlangsung. Karena itulah bangunan bersejarah tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial dan budaya yang melahirkannya.
“Dalam bangunan itu ada nilai historisnya, bukan hanya terkait orang dan status yang menempati, tetapi juga peristiwa yang terjadi,” katanya.
Di tengah pesatnya pembangunan kota, Tundjung melihat ancaman terbesar terhadap bangunan heritage bukan semata kerusakan fisik akibat usia. Ancaman yang lebih serius justru datang dari rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya warisan sejarah.
Ia mengaku prihatin karena masih banyak bangunan bersejarah di Solo yang kurang mendapat perhatian. Sebagian bahkan hilang karena dikalahkan kepentingan ekonomi dan pembangunan jangka pendek.
“Saya prihatin melihat banyak bangunan sejarah di Kota Solo yang tidak terawat bahkan dirobohkan hanya untuk kepentingan jangka pendek,” ungkapnya.
Padahal, menurut dia, hilangnya bangunan-bangunan bersejarah berarti hilangnya bagian dari identitas kota itu sendiri. “Ketika banyak dalem pangeranan rusak dan lenyap, Kota Solo kehilangan legitimasinya sebagai kota tua,” ujarnya.
Tunjung identitas sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung baru, jalan yang semakin lebar, atau pusat-pusat ekonomi yang terus tumbuh. Identitas kota juga dibentuk oleh memori kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam konteks itulah keberadaan Dalem Joyokusuman menjadi penting. Bangunan ini masih berdiri sebagai penanda bahwa Solo pernah menjadi pusat kebudayaan Jawa yang melahirkan tradisi, tata nilai, dan sistem sosial yang khas.
Tundjung menilai pelestarian bangunan heritage tidak harus membuatnya menjadi ruang yang beku dan hanya dipandang dari kejauhan. Justru sebaliknya, bangunan bersejarah perlu tetap hidup melalui aktivitas yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Karena itu, ia mengapresiasi pemanfaatan Dalem Joyokusuman sebagai ruang budaya yang terbuka bagi publik.
“Sedikit membanggakan ketika Dalem Joyokusuman dijadikan tempat kegiatan budaya sehingga dalem tersebut masih menjadi monumen sejarah aristokrasi kultural di masa lampau,” tuturnya.
Kini, ketika anak-anak muda datang untuk menyaksikan pertunjukan seni, mengikuti workshop, membuat konten kreatif, atau sekadar menikmati suasana bangunan tua, sesungguhnya mereka sedang berinteraksi dengan sejarah yang masih hidup.
Dalem Joyokusuman bukan hanya peninggalan masa lalu. Ia adalah penghubung antara generasi yang pernah membangun Solo dengan generasi yang akan menentukan masa depannya.
Di tengah perubahan kota yang terus bergerak, bangunan ini mengingatkan bahwa sebuah peradaban tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun hari ini, tetapi juga dari apa yang mampu dipertahankan dari masa lalunya. (luthfiana sekar/bun)
Editor : Kabun Triyatno