Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sendang Lembu Suro, Jejak Arca Nandi dari Era Mataram Kuno di Klaten Utara

Angga Purenda • Kamis, 6 November 2025 | 23:16 WIB

Temuan arkeologis berupa arca lembu yang diyakini sebagai peninggalan era Mataram Kuno.
Temuan arkeologis berupa arca lembu yang diyakini sebagai peninggalan era Mataram Kuno.

KLATEN, RADARSOLO.COM — Di balik keringnya Sendang Lembu Suro yang kini nyaris tak berair, tersimpan kisah sejarah menarik yang menyingkap jejak masa lampau.

Sumber air yang berada di Dusun Pundungan, Desa Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara ini ternyata menyimpan temuan arkeologis berupa arca lembu yang diyakini sebagai peninggalan era Mataram Kuno.

Temuan itu menjadi awal penamaan sendang tersebut. Muhammad Afrizal Surya Mahendra, pemuda asal Dusun Pundungan, menuturkan bahwa nama Sendang Lembu Suro diambil dari penemuan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) ketika proses renovasi beberapa tahun lalu.

Baca Juga: Andy Setyo Turun Gunung Tampil di Tim PSIM Jogja U-20, Sayang Kalah dari Persis Solo dan Malut United dengan Cukup Menyakitkan

“Kenapa disebut Sendang Lembu Suro? Karena dulu waktu sendang dikeruk untuk renovasi, ditemukan patung lembu kecil di dalamnya. Dari situ kemudian diberi nama Sendang Lembu Suro,” jelas Afrizal saat ditemui Radar Solo.

Afrizal menambahkan, arca lembu tersebut kini masih tersimpan di sekitar lokasi sendang, meski kondisinya tidak lagi utuh.

“Patungnya kecil, tapi kepalanya sudah hilang. Mungkin karena faktor sejarah di masa lalu,” ujarnya.

Baca Juga: Longsor di Desa Jrakah Selo Boyolali Tutup Akses Jalan Utama Dukuh Tumut-Gesikan: Batu Besar Menghalangi, Warga Harus Memutar Sejauh10 Km

Patung tanpa kepala itu kini diletakkan di bawah pohon beringin tua, menggantikan posisi pohon asem besar yang dahulu menaungi kawasan sendang. Wisatawan atau warga yang melintasi jembatan kecil di dekat lokasi masih dapat melihat langsung keberadaan arca tersebut.

Sendang Lembu Suro memiliki luas sekitar 10 x 15 meter. Sebelum tahun 2020, mata air di tempat ini menjadi sumber kehidupan warga sekitar dan bahkan rutin dijadikan lokasi pemancingan setiap Minggu. Namun sejak dilakukan rehabilitasi, mata airnya mendadak hilang dan sendang pun mengering.

“Setelah renovasi itu, mata airnya justru mati. Tapi kami berharap bisa menghidupkannya kembali dan mengembangkan kawasan ini sebagai potensi wisata desa,” ungkap Afrizal penuh harap.

Baca Juga: Zohran Mamdani Anak Siapa? Ini Asal-usul Putra Profesor dan Sutradara Peraih Golden Lion yang Kini Jadi Wali Kota New York

Rencana revitalisasi sendang kini tengah digagas oleh para pemuda desa. Mereka ingin menjadikan Sendang Lembu Suro bukan sekadar tempat bersejarah, tetapi juga ruang wisata edukatif yang bisa memperkenalkan nilai budaya dan arkeologis Klaten.

Sementara itu, pegiat sejarah Kabupaten Klaten, Hari Wahyudi, menjelaskan bahwa arca yang ditemukan di sendang merupakan arca Nandi, yaitu sapi jantan tunggangan Dewa Siwa dalam kepercayaan Hindu.

“Secara utuh, Nandi berbentuk sapi jantan dan berfungsi sebagai kendaraan Dewa Siwa. Berdasarkan topologi dan bentuknya, arca itu berasal dari era Mataram Kuno abad ke-9 hingga ke-10,” terang Hari.

Menurut Hari, arca Nandi yang ditemukan memiliki panjang sekitar 38 sentimeter, dengan kondisi tanpa kepala. Dalam struktur pemujaan Hindu, kehadiran arca Nandi biasanya menandai keberadaan sebuah candi.

“Nandi tidak berdiri sendiri sebagai objek pemujaan. Jika ada arca Nandi, biasanya di sekitarnya juga pernah ada bangunan candi,” ujarnya.

Baca Juga: Kronologi Lengkap: Nessie Judge Dibanjiri Hujatan Netizen Jepang Gara-gara Pajang Foto Junko Furuta

Sendang Lembu Suro menjadi saksi bisu peradaban kuno yang pernah hidup di tanah Klaten
Sendang Lembu Suro menjadi saksi bisu peradaban kuno yang pernah hidup di tanah Klaten

Ia menambahkan, temuan di Sendang Lembu Suro kemungkinan memiliki keterkaitan dengan situs-situs lain di Desa Jonggrangan, seperti Situs Mbah Gempur, atau bisa juga merupakan bagian dari temuan lepas yang banyak dijumpai di wilayah tersebut.

“Keramatnya arca Nandi bagi umat Hindu juga berkaitan dengan larangan memakan daging sapi, karena dianggap sebagai tunggangan Dewa Siwa,” tutur Hari menutup penjelasan.

Kini, meski air sendang telah mengering, Sendang Lembu Suro tetap menjadi saksi bisu peradaban kuno yang pernah hidup di tanah Klaten—sebuah warisan yang menunggu untuk digali kembali oleh generasi penerusnya. (ren/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#mataram kuno #pohon beringin tua #arkeologis #Klaten utara #Sendang