Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

RASOHISTORI: Gunungkidul Kaya Akan Situs Megalitikum, Jejak Peradaban Manusia Purba Bertebaran

Niko auglandy • Rabu, 8 April 2026 | 19:23 WIB
MASIH TERJAGA: Kubur batu dari situs megalitikum di Dusun Sokoliman, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo Kabupaten Gunungkidul. (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)
MASIH TERJAGA: Kubur batu dari situs megalitikum di Dusun Sokoliman, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo Kabupaten Gunungkidul. (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Gunungkidul,Daerah Istimewa Jogjakarta sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan megalitikum terpenting di Pulau Jawa. Kawasan Bejiharjo, Karangmojo, khususnya Situs Sokoliman, menjadi lokasi kunci yang menyimpan ratusan tinggalan prasejarah berupa menhir, dolmen, waruga, papan kubur batu, hingga tembikar tanah liat. Temuan tersebut mengindikasikan jejak peradaban manusia yang telah berkembang lebih dari 3.500 tahun.

Menurut laman resmi Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, wilayah Cekungan Wonosari yang berada di sebelah timur Sungai Oyo telah dihuni manusia sejak masa Bercocok Tanam hingga Perundagian atau Paleometalik. Lingkungan aluvial yang lebih terbuka menjadi tempat adaptasi baru setelah sebelumnya manusia menghuni kawasan Perbukitan Karst Gunung Sewu.

Baca Juga: Situs Candi Secang: Yoni Watu Meja Tebar Misteri Yang Belum Juga Terpecahkan

Keberadaan Situs Sokoliman dinilai penting bukan hanya karena jumlah artefaknya, tetapi juga karena fungsinya sebagai penanda dinamika budaya dari masa paleolitik menuju proto-sejarah. Peralihan itu tercermin dari beragam struktur batu—mulai menhir, kubur batu, hingga alat-alat perunggu—yang menggambarkan perubahan gaya hidup dan teknologi masyarakat masa itu.

Situs Sokoliman: “Museum Terbuka” Megalitikum Gunungkidul

Sokoliman yang terletak di Dusun Sokoliman, Desa Bejiharjo, sejak lama diketahui sebagai permukiman manusia pada masa megalitikum dan masa-masa setelahnya. Di kawasan ini banyak ditemukan: reruntuhan bangunan batu, arca megalitik, dolmen, menhir, kubur batu, gua purba, serta gerabah dan artefak logam seperti gagang pedang perunggu.

Situs Sokoliman pertama kali diteliti oleh J.L. Moens pada 1934, disusul van der Hoop beberapa tahun kemudian. Pada 1980-an, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) melakukan pendataan dan mengumpulkan artefak-artefak megalitik yang tercecer di area pertanian warga.

Baca Juga: Misteri Penemuan Batu Yoni Berornamen Kepala Naga hingga Batuan Candi: Dirawat Generasi Ketiga, Tolak Dibeli dengan Tawaran Menggiurkan

Cerita masyarakat setempat menyebut nama “Sokoliman” berasal dari keberadaan lima batu besar yang diduga merupakan menhir kuno di sekitar dusun.

Kini area inti situs memuat empat kubur batu serta kelompok batu balok dan menhir yang disusun melingkari lokasi. Meski sederhana dan berada di lahan pertanian, kompleks ini menyimpan potret sejarah penting mengenai kehidupan prasejarah di Cekungan Wonosari.

Situs Gondang: Bukan Kubur Batu, Tetapi Struktur Talud Kuno

Tidak jauh dari Sokoliman, terdapat Situs Gondang yang berada di Dusun Gondang, Desa Ngawis—sekitar 8 km dari Wonosari. Penggalian oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala DIY pada 10–14 Januari 1996 menyimpulkan bahwa susunan batu di situs ini bukan kubur batu, melainkan talud buatan manusia untuk menahan longsor di area berbukit.

Meski begitu, banyak batu megalitik lain yang dikumpulkan warga—meliputi batu candi, menhir, fragmen arca, hingga potongan artefak yang menandai tumbuhnya peradaban masa klasik. Warga bahkan bercerita bahwa jumlah batu kuno yang ditemukan bisa memenuhi satu truk besar bila dikumpulkan seluruhnya.

Temuan arang bambu, genteng, serta artefak lain menunjukkan bahwa area ini telah mengalami aktivitas manusia modern sehingga lapisan purbanya tercampur. Namun demikian, potensi arkeologisnya masih sangat besar untuk diteliti lebih lanjut.

Situs Gunung Bang: Tinggalan Megalitik yang Terabaikan

Sekira 3 kilometer dari Sokoliman, terdapat Situs Gunung Bang—salah satu situs megalitik tersisa di Karangmojo. Sayangnya, kondisinya paling memprihatinkan dibanding Sokoliman dan Gondang.

Tidak ada pagar, papan informasi, maupun penjaga situs. Batu-batu megalitiknya tercecer di kiri dan kanan jalan, sebagian bahkan dianggap warga hanya sebagai batu kuburan biasa. Banyak pengunjung kesulitan menemukan lokasi tepatnya karena minimnya penanda.

Baca Juga: Warga Pondok Klaten Pindahkan Batu Yoni 1 Ton dari Tengah Kampung ke Kawasan Embung Sikajar, Ini Alasannya

Padahal, struktur batu di Gunung Bang menunjukkan pola yang mirip kubur peti batu pada masa batu besar. Meski kondisi fisiknya menurun, situs ini tetap menjadi bagian penting dari lanskap arkeologi megalitikum di Gunungkidul yang patut dilestarikan.

Situs Bleberan: Deretan Menhir Tersusun Rapi

Situs Bleberan yang berada di Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Gunungkidul, menjadi salah satu lokasi penyimpanan tinggalan megalitik yang masih jarang diketahui publik. Berjarak sekitar tiga kilometer dari Situs Papringan, area ini menampung berbagai menhir dan benda cagar budaya yang ditemukan di wilayah desa setempat.

Baca Juga: Pastikan Yoni Aman dari Penggusuran Jalan Tol Solo-Jogja

Di situs ini terdapat sekitar tujuh arca dengan tinggi antara satu hingga tiga meter. Kondisinya relatif baik; guratan wajah, bentuk tangan, hingga detail tubuh masih tampak jelas. Penataan batu-batu purbakala di Bleberan juga mencerminkan pola khas megalitik Gunungkidul—batu disusun berjajar, dilengkapi dua kotak halaman yang menampung deretan menhir dan fragmen batu lainnya.  

Di sisi kanan halaman situs, deretan menhir tersusun rapi. Sementara di sisi kiri, sejumlah batu yang diduga bagian dari bangunan candi diletakkan berdekatan, meski kini yang tersisa hanya fragmen kecil.

Fasilitas pendukung di lokasi ini masih sederhana, hanya berupa pos jaga yang juga berfungsi sebagai tempat berteduh. Menurut keterangan warga, situs ini baru dibuat atau diresmikan beberapa waktu terakhir sebagai lokasi penyimpanan temuan arkeologis.

Salah satu menhir yang menarik perhatian memiliki tinggi sekitar tiga meter. Bagian wajah dan tangan masih terlihat jelas, sehingga diduga menjadi simbol penghormatan masyarakat pada masa prasejarah.

Baca Juga: Umat Hindu di Klaten Berharap Yoni Tak Tergusur Proyek Tol Solo-Jogja

Selain itu, terdapat dua batu berukuran besar yang oleh warga disebut sebagai “batu bulan”. Fungsi batu-batu ini pada masa lalu belum dapat dipastikan, namun diduga berkaitan dengan ritual atau penanda tertentu dalam tradisi megalitik.

Dengan kekayaan tinggalan purba yang masih terawat, Situs Bleberan menjadi bukti bahwa kawasan Gunungkidul menyimpan banyak jejak peradaban lama yang belum sepenuhnya terungkap.

Baca Juga: Cari Solusi Lindungi Yoni, Disparbudpora Klaten Siap Fasilitasi

Jejak budaya megalitik di Gunungkidul—dari Sokoliman, Gondang,  Gunung Bangdan Bleberan—menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas manusia prasejarah yang dinamis. Dari penghunian gua karst, berkembang menjadi masyarakat agraris yang membangun struktur batu monumental.

Sayangnya, beberapa situs kini berada dalam kondisi yang memerlukan perhatian serius agar tidak hilang ditelan waktu.

Pelestarian, pendataan, dan edukasi publik menjadi kunci agar jejak sejarah berusia ribuan tahun ini tidak sekadar menjadi tumpukan batu di lahan warga, tetapi tetap diakui sebagai bagian penting dari perjalanan peradaban Nusantara. (nik)

 

Editor : Niko auglandy
#arab #gunungkidul #megalitik