RADARSOLO.COM - Bagi para pemburu kuliner legendaris, Sweke Bu Reso di Klaten bukanlah nama baru.
Sejak tahun 1965, aroma harumnya sajian sweke nyemek yang menjadi ciri khasnya telah memikat lidah lintas generasi.
Kini di tengah gempuran kuliner modern, rumah makan yang kental dengan resep warisan ini tengah memulai babak baru.
Saat ini sedang memasuki transisi ke generasi ketiga dalam pengelolaannya.
Baca Juga: Sup Iga Bu Ugi Tawangmangu Karanganyar, Sajian Hangat Buruan Wisatawan Gunung Lawu
Seperti diketahui Sweke Bu Reso bermula dari tangan dingin Reso Sumarto sebagai generasi pertama.
Dahulunya ia berjualan di kawasan Tegal Blateran, Kelurahan Kabupaten, Klaten Tengah.
Uniknya, keahlian mengolah katak hijau yang hidup di alam semakin terasah saat komunitas Tionghoa yang kerap bermain bulutangkis di sekitar lokasi jualannya.
Mereka merasa cocok dengan masakan Bu Reso waktu itu.
"Dulu di samping rumah simbah itu ada lapangan badminton yang punya orang Tionghoa. Dari situ simbah coba jualan, ternyata mereka suka dan bilang enak. Akhirnya lanjut terus sampai sekarang," kenang Anang Hantarta,43, generasi ketiga yang kini meneruskan usaha tersebut, Jumat (24/4/2026).
Baca Juga: Menikmati Sensasi Nyumik! Pedasnya Sambal Bawang Legendaris Warung Mak Cumik Eromoko Wonogiri
Setelah Bu Reso wafat pada 2010, usaha itu dilanjutkan oleh generasi kedua, Suharti Kartini, 66.
Sedangkan Anang yang sebelumnya memiliki latar belakang bekerja sebagai juru masak di hotel berbintang di Yogyakarta, juga memilih pulang ke Klaten untuk melanjutkan mengelola usaha tersebut pada 2012.
Hal itu dilakukan agar kuliner Sweke Bu Reso tetap eksis, mengingat Suharti sudah tidak terlibat secara penuh dalam mempersiapkan keseluruhannya.
Meski begitu, dirinya tetap menjadi penjaga cita rasa di tengah masa transisi pengelolaannya ke anaknya yakni Anang.
Kini hampir 10 tahun sudah warung sweke Bu Reso berpindah di Jalan Kopral Sayom, Jetak Kidul, Karanganom, Klaten Utara.
Berbeda dengan olahan lainnya, sweke Bu Reso memiliki ciri khas tersendiri.
Menu paling populer dan banyak dipesan oleh pelanggan yakni sweke nyemek.
"Pembedanya, kuah kita itu kecapnya kental. Rasanya perpaduan manis, gurih, dan sedikit pedas dari merica. Kita juga tidak pakai tauco dalam racikan standar karena tidak semua orang suka baunya yang tajam. Tapi kalau ada yang minta, tetap kami sediakan," jelas Anang.
Kunci kelezatannya terletak pada keberanian bumbu. Anang menegaskan tidak pernah mengurangi takaran seperti bawang putih, jahe, dan merica.
Meski harga bahan baku di pasar fluktuatif. Jahe menjadi komponen penting untuk memastikan daging katak tetap segar dan tidak tercium bau amis sedikitpun.
Baca Juga: Surga Bahari yang Tersembunyi: Intip 10 Pantai Hidden Gem Wonogiri untuk Rehat dari Hiruk Pikuk Kota
Satu hal yang tetap dijaga ketat adalah penggunaan bahan baku. Sweke Bu Reso hanya menggunakan katak hijau yang hidup di alam.
Menurut Anang, katak alam memiliki tekstur daging yang kencang dan gurih.
"Kalau katak ternakan, jika dimasak lama dagingnya mudah lepas dari tulang dan rasanya hambar. Katak alam tetap kenyal dan gurihnya meresap sampai ke tulang. Dalam sehari bisa menghabiskan 20-25 Kg katak segar," tambahnya.
Kehebatan rasa Sweke Bu Reso telah membawa tokoh-tokoh besar mampir ke warung legendaris tersebut.
Mulai dari almarhum Didi Kempot, dalang kondang Ki Anom Suroto hingga artis Feby Febiola.
Baca Juga: Surga Bahari yang Tersembunyi: Intip 10 Pantai Hidden Gem Wonogiri untuk Rehat dari Hiruk Pikuk Kota
Pelanggannya pun banyak yang rela datang jauh-jauh dari Surabaya, Jakarta hingga Semarang.
Untuk harga, satu porsi sweke nyamek biasa dibanderol Rp 50.000, sementara untuk Sweke nyemek istimewa (menggunakan ukuran katak super besar) dibanderol Rp 60.000 per porsi.
Menikmati Sweke Nyemek Bu Reso paling pas disandingkan dengan nasi hangat dan kerupuk rambak cakar atau emping melinjo.
Dipadukan dengan kuah kental yang gurih dan manis dengan tekstur daging katak yang lembut.
Tersedia juga menu lain seperti sweke kuah bening, sweke kuah biasa, sweke goreng tepung, sweke goreng kering tanpa tepung dan telur kodok goreng.
Ada juga menu aneka penyetan bagi pelanggan yang tidak mengonsumsi sweke. (ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono