Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Ringin Kembar Sewurejo, Penunjuk Jalan Gerilyawan Karanganyar di Masa Agresi Militer Belanda

Rudi Hartono RS • Sabtu, 4 Juli 2026 | 06:10 WIB

 

Ringin kembar ikon Desa Sewurejo, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar memiliki jejak sejarah perjuangan kemerdekaan. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Ringin kembar ikon Desa Sewurejo, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar memiliki jejak sejarah perjuangan kemerdekaan. (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Di balik rindangnya dua pohon beringin tua yang berdiri kokoh di Desa Sewurejo, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar, tersimpan kisah yang melampaui sekadar legenda desa.

Ringin Kembar Sewurejo bukan hanya menjadi saksi bisu perjuangan para gerilyawan mempertahankan kemerdekaan.

Tetapi juga dipercaya sebagian masyarakat sebagai tempat yang menghadirkan ketenangan batin dan memancarkan energi positif.

Dua pohon beringin berukuran raksasa itu diperkirakan telah tumbuh ratusan tahun lalu. Warga setempat menuturkan, pada masa Agresi Militer Belanda, kawasan tersebut menjadi salah satu titik penting jalur gerilya menuju lereng Gunung Lawu.

Baca Juga: Diminta ke DPD, Tri Haryadi Mundur dari Bursa Ketua Partai Demokrat Karanganyar

Posisinya yang berada di dataran lebih tinggi membuat Ringin Kembar mudah dikenali dari kejauhan. Para pejuang memanfaatkan tajuk pohon yang lebat sebagai penunjuk arah.

Sekaligus tempat berlindung dari pengintaian pesawat Belanda yang kala itu dikenal masyarakat dengan sebutan Cocor Merah.

”Dari sini dulu pergerakan musuh bisa dipantau. Kalau ada pasukan Belanda datang dari arah barat, para pejuang sudah lebih dulu mengetahui sehingga bisa berpindah atau menyusun strategi,” tutur Kepala Desa Sewurejo Agus Wibowo.

Baca Juga: Menikmati Gurih-Manis Opor Bebek Pincuk Khas Kranggan Klaten, Kuliner Tradisional yang Bikin Nagih

Namun, cerita tentang Ringin Kembar tidak berhenti pada lembaran sejarah. Seiring waktu, kawasan ini mulai dikenal sebagai lokasi yang kerap didatangi masyarakat untuk mencari ketenangan.

Bukan untuk aktivitas yang berbau mistis, melainkan menikmati suasana alam, bermeditasi, hingga berdoa.

Agus menambahkan, Ringin Kembar merupakan salah satu ikon desa yang memiliki nilai sejarah sekaligus budaya.

Baca Juga: Dalem Joyokusuman, Sarat Filosofi yang Menggambarkan Kosmologi Jawa dan Stratifikasi Ruang dalam Budaya Keraton

Cerita mengenai sisi spiritual yang berkembang di masyarakat merupakan bagian dari tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

”Ringin Kembar adalah warisan yang harus kita jaga bersama. Selain memiliki nilai sejarah karena dikaitkan dengan perjuangan gerilya, masyarakat juga mengenalnya sebagai tempat yang menghadirkan ketenangan. Kami menghormati berbagai cerita yang berkembang, tetapi yang paling penting adalah menjaga kelestarian pohon dan lingkungan di sekitarnya," jelas Agus.

Menurutnya, pemerintah desa tidak pernah mengarahkan masyarakat untuk mempercayai hal-hal di luar nalar.

Baca Juga: Menang Praperadilan, Aris Martopo Bakal Kembali Bertugas di Pemkab Karanganyar

Justru keberadaan Ringin Kembar lebih diposisikan sebagai destinasi sejarah, budaya, dan wisata alam yang layak dikenalkan kepada generasi muda.

”Kami ingin masyarakat datang untuk mengenal sejarah desa sekaligus menikmati keindahan alamnya. Siapa pun yang berkunjung kami harapkan tetap menjaga sopan santun, kebersihan, dan tidak melakukan tindakan yang merusak lingkungan," imbuhnya.

Salah seorang pengunjung, Suroto mengaku setiap beberapa bulan sekali menyempatkan diri datang ke Ringin Kembar. Menurutnya, suasana yang masih alami menjadi alasan utama.

Baca Juga: Bukan Cuman Idol, Ini Dia 7 Drama yang Dibintangi Lee Jinwoo

”Saya sudah beberapa kali datang ke sini. Kalau duduk di bawah pohon ini rasanya pikiran lebih tenang. Udaranya sejuk, suasananya hening. Mungkin karena alamnya masih benar-benar terjaga, jadi membuat hati lebih nyaman,” ujarnya.

Ia mengaku tidak datang untuk mencari hal-hal yang berbau supranatural. Baginya, Ringin Kembar hanya menjadi tempat melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

”Saya menikmati suasana alamnya. Kalau soal ada energi atau tidak, itu kembali pada keyakinan masing-masing. Yang jelas, tempat ini membuat saya merasa lebih rileks,” tambahnya. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
#ringin kembar #gerilya #karanganyar #agresi militer belanda #mojogedang