RADARSOLO.COM - Sourdough menjadi salah satu jenis roti yang menarik karena dibuat melalui proses fermentasi alami. Berbeda dengan roti pada umumnya, sourdough menggunakan starter yang berasal dari campuran tepung dan air yang difermentasi secara alami.
Proses tersebut menghasilkan rasa sedikit asam, tekstur bagian dalam yang kenyal, serta kulit roti atau crust yang garing. Bahan dasarnya pun cukup sederhana, yakni tepung, air, garam, dan starter.
Menariknya, starter sourdough merupakan kultur mikroorganisme hidup yang dapat terus dipelihara dengan pemberian tepung dan air secara rutin. Jika dirawat dengan baik, starter bahkan dapat digunakan selama bertahun-tahun dan diwariskan ke generasi berikutnya.
Baca Juga: Kenapa Makanan Berbau Dubai Sering Dijual Mahal? Ternyata Bukan Cuma Soal Nama
Sourdough juga memiliki sejarah panjang. Teknik fermentasi alami untuk membuat roti telah dikenal sejak peradaban kuno, termasuk di Mesir Kuno. Hingga kini, metode tersebut masih dipertahankan oleh banyak pembuat roti di berbagai negara.
Membuat sourdough membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan roti biasa. Prosesnya dimulai dengan membuat starter dari tepung dan air yang diberi makan secara rutin selama beberapa hari hingga aktif dan mampu mengembang.
Baca Juga: Wajib Dicoba! Toko Roti Aren Penumping: Kopitiam Modern Hits dengan Roti Terenak di Solo
Setelah starter siap, tepung dan air dicampurkan, kemudian ditambahkan starter serta garam. Adonan selanjutnya menjalani beberapa tahap, mulai dari stretch and fold, fermentasi awal, pembentukan adonan, hingga cold proofing di dalam kulkas.
Adonan kemudian dipanggang pada suhu tinggi hingga menghasilkan crust berwarna kecokelatan dan renyah. Setelah matang, roti sebaiknya didinginkan terlebih dahulu sebelum dipotong agar bagian dalamnya memiliki tekstur yang lebih baik.
Salah satu keunikan sourdough adalah rasa dan aromanya dapat berbeda-beda. Jenis tepung, suhu, lama fermentasi, hingga kondisi lingkungan dapat memengaruhi karakter starter dan hasil akhirnya. Karena itu, sourdough yang dibuat di satu daerah belum tentu memiliki rasa yang sama dengan sourdough dari daerah lainnya.
Baca Juga: Suka Baca Buku? Ini 8 Cafe Buku di Solo yang Wajib Masuk Wishlistmu
Meski sering dianggap lebih mudah dicerna, sourdough tetap mengandung gluten dan bukan merupakan roti gluten-free. Proses fermentasi memang dapat mengubah sebagian komponen dalam tepung, tetapi tidak membuatnya aman bagi penderita penyakit celiac.
Dengan proses yang panjang dan starter yang harus dirawat, membuat sourdough memang membutuhkan kesabaran. Namun, proses fermentasi alami tersebut justru menjadi bagian yang membuat sourdough memiliki rasa, aroma, dan tekstur yang khas.
Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum