RADARSOLO.COM-Angka kemiskinan di Wonogiri disebut turun menjadi satu digit, yakni di angka 9,59 persen.
Persentase tersebut berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025.
Di tahun lalu, angka kemiskinan berada di angka 10,71 persen. Artinya, ada penurunan yang cukup signifikan hingga 1,12 persen.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno mengatakan, penurunan angka kemiskinan dipengaruhi sejumlah faktor.
Salah satunya adalah program pemerintah yang menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) jagung dan padi.
"Surveinya sekitar bulan 1-3 (Januari-Maret). Ternyata petani saat itu mendapatkan hasil yang lebih baik. Wonogiri juga saat puncak panen, jadi mendongkrak pendapatan petani," ujar Setyo baru-baru ini.
Selain itu, intervensi yang dilakukan Pemkab Wonogiri lewat sejumlah program bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
Sasaran yang tepat turut mendongkrak penurunan kemiskinan.
Adapun angka kemiskinan 9,59 persen ini melampaui target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Wonogiri.
Dimana Pemkab Wonogiri menargetkan angka kemiskinan pada 2025 di angka sekira 9,7 persen.
Bupati menuturkan, penurunan kemiskinan merupakan cita-cita Pemkab Wonogiri sejak lama.
Pemkab Wonogiri menginginkan tingkat kemiskinan di bawah 10 persen.
Baca Juga: Dorong Prestasi Atlet, Lapangan Tenis Standar Nasional Akan Dibangun di STC Pringgodani Wonogiri
"Kami juga telah membentuk tim percepatan penurunan kemiskinan daerah. Program-program untuk intervensi diharapkan bisa dioptimalkan untuk selalu menekan angka kemiskinan. Ini cukup memuaskan," papar Setyo.
Selain itu, inflasi yang rendah karena daya beli yang rendah diduga turut menjadi faktor penurunan angka kemiskinan.
Menurut bupati, salah satu indikator kemiskinan di tingkat inflasi
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Wonogiri Rahmad Iswanto mengatakan, berdasarkan hasil Susenas pada Februari 2025, angka kemiskinan di Wonogiri turun 1,12 persen.
Dia menuturkan, pada 2013, angka kemiskinan Wonogiri berada di angka 13,7 persen. Kini, angka kemiskinan berada di satu digit.
"Maka yang perlu dicatat, atas capaian ini besok mau apa? Apa sih yang mendorong angkanya turun. Ini kita analisis," ujar Pranata.
Menurut Sekda, penurunan angka kemiskinan terjadi karena adanya pembangunan yang masif selama bertahun-tahun.
Efek jangka panjang dari infrastruktur yang dibangun pemerintah mulai terasa efeknya.
Penetrasi program dari pemerintah pusat juga turut berdampak menekan angka kemiskinan.
Misalnya seperti program bantuan sosial seperti bantuan langsung tunai (BLT) hingga diskon khusus seperti diskon tarif listrik juga membantu penurunan angka kemiskinan.
"Untuk mempertahankan itu, kita berharap pemerintah pusat tetap memberikan perhatian. Sementara pemerintah daerah, program Pak Bupati di ketahanan pangan yang menyentuh masyarakat, khususnya petani akan kami percepat," urai sekda.
Program bupati Setyo yang dimaksud Sekda salah satunya adalah pembuatan 1.000 sumur pantek.
Jika sebelumnya ditargetkan akan rampung pada lima tahun, diupayakan dikebut untuk bisa rampung 3,5-4 tahun.
"Karena tahun ini saja kita bisa alokasikan 250. Misalnya besok ada alokasi anggaran, kita tingkatkan lagi. Harapan kita, 3,5-4 tahun sudah selesai," ungkap Pranata.
Diharapkan, program itu bisa meningkatkan produktivitas para petani. Dengan begitu, kesejahteraan petani bisa meningkat.
Itu juga bisa berpengaruh terhadap penurunan angka kemiskinan.
"Strategi kita ke sana. Di samping intervensi di bidang pendidikan, kesehatan dan lainnya. Sesuai dengan kemampuan," pungkas sekda Wonogiri. (al/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono