Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Wonogiri Rawan Terdampak Gempa, BPBD: Kuatkan Edukasi Kelembagaan di Wilayah

Iwan Adi Luhung • Minggu, 12 Oktober 2025 | 20:11 WIB
Petugas BPBD Wonogiri menunjukkan alat Warning Receiver System Indonesia Tsunami Early Warning System (WRS InaTEWS) di Kantor BPBD Wonogiri, Minggu (12/10/2025).
Petugas BPBD Wonogiri menunjukkan alat Warning Receiver System Indonesia Tsunami Early Warning System (WRS InaTEWS) di Kantor BPBD Wonogiri, Minggu (12/10/2025).

RADARSOLO.COM- Wonogiri disebut sebagai wilayah yang rawan terdampak gempa bumi.

Menyikapi hal tersebut, upaya mitigasi bencana terus dilakukan.

Hal itu disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri Fuad Wahyu Pratama.

Fuad menuturkan, pihaknya mentargetkan untuk memperkuat di sektor kelembagaan masyarakat dalam upaya mitigasi dampak bencana gempa bumi.

Dimana akan dilakukan penguatan edukasi agar masyarakat tangguh dalam menghadapi bencana.

"Tidak hanya tangguh dalam menghadapi bencana gempa bumi. Tapi juga bencana lain seperti tanah longsor dan sebagainya," ujar dia.

Saat ini, seluruh desa dan kelurahan di Kota Sukses sudah terbentuk Desa Tangguh Bencana (Destana). Totalnya sebanyak 294 desa dan kelurahan.

Menurut Fuad, dengan sudah terbentuknya Destana di selurih desa dan kelurahan itu memudahkan dalam upaya penguatan edukasi.

Tinggal nanti bagaimana konsep materi yang diberikan untuk mengedukasi terkait dengan potensi dampak gempa bumi.

"Penguatan kelembagaan. Paling tidak saat ini mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi," beber Fuad.

Mantan Camat Giriwoyo itu juga menyinggung soal materi Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami yang digelar oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kamis (9/10/2025) lalu di Wonogiri.

Dimana materi yang diberikan sangat positif dan memberikan pengetahuan baru bagi peserta yang diantaranya merupakan relawan hingga juga perwakilan dari sekolah di Wonogiri.

Baca Juga: Perpres 79 Tahun 2025 Resmi Terbit, Gaji ASN Naik hingga 12 Persen! Simak Cara Hitung Simulasi Gaji Baru PNS 2025

"Beberapa relawan diikutsertakan. Itu bisa menyampaikan informasinya ke relawan lainnya. Gethok tular. Jadi informasi yang didapatkan bisa beredar lebih luas," terang dia.

Anggota BPBD Wonogiri juga ikut dalam sekolah itu. Sehingga, kata Fuad, materi dari BMKG bisa diedukasikan saat timnya terjun ke masyarakat.

"Saat ada ruang bagi kita untuk bersosialisasi dengan masyarakat kita beri edukasi soal itu. Termasuk sekolah. Dalam waktu dekat kita juga mau memberikan edukasi di sekolah-sekolah, sudah mulai running," kata Fuad.

Sebelumnya diberitakan, Wonogiri kerap terdampak gempa meski episentrum atau pusat gempa jauh dari Wonogiri.

Bahkan dalam sejumlah kasus, dampak yang dirasakan Wonogiri bisa lebih parah dibandingkan wilayah lain yang dekat dengan episentrum gempa.

Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II Hartanto didampingi Kepala BMKG Stasiun Geofisika Banjarnegara Hery Susanto Wibowo menerangkan, salah satu faktor yang memengaruhi dampak gempa adalah kondisi tanah lokal di wilayah terdampak.

Saat tanah lokal bersteksur keras maka bisa meredam guncangan. Namun, jika tanah lokal lunak bisa memperbesar guncangan akibat gempa.

"Tanah lunak itu seperti endapan-endapan," ujar Hery di sela acara Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami di Wonogiri Kamis (9/10/2025).

Menurut pihaknya, adanya tanah karst juga bisa berpengaruh atas dampak gempa.

Termasuk wilayah Wonogiri berupa cekungan yang banyak mengandung tanah endapan.

Perlu kajian dan pengukuran untuk memastikan tanah di Wonogiri dikategorikan sebagai tanah keras, sedang atau lunak.

"Semisal tanahnya lunak, konstruksi bangunan harus lebih kuat," beber dia.

Pihaknya menerangkan, gempa yang dirasakan di Wonogiri biasanya diakibatkan dari dua sumber.

Baca Juga: Wasit Ma Ning Disorot! Enggan Beri Penalti di Laga Krusial Timnas Indonesia vs Irak, Banjir Kontroversi di Akhir Pertandingan

Pertama pertemuan antara lempeng benua dan lempeng samudera di Samudera Indonesia atau sesar aktif yang berada di daratan Wonogiri.

Gempa bersumber sesar aktif beberapa kali tercatat, tetapi dengan magnitudo kecil, di bawah 3, sehingga dampaknya tidak terasa.

Adapun gempa bersumber dari pertemuan lempeng benua dan samudera beberapa kali tercatat dari luar wilayah Wonogiri. Namun, dampaknya justru lebih besar di Wonogiri.

Misalnya gempa berkekuatan 5,2 magnitudo yang berpusat di selatan Gunungkidul juga berdampak di Wonogiri Februari 2025 lalu.

Yakni menimbulkan tanah longsor di Desa Sidorejo, Kecamatan Tirtomoyo.

Sementara itu, Hartanto mengatakan, gempa tektonik yang berpusat di Samudera Indonesia dalam skenario terburuk bisa menciptakan megathrust berkekuatan 9,1 Magnitudo.

Dampak tsunami kemungkinan hanya akan terasa di daerah sekitar pantai.

Namun, dampak gempa bumi dapat dirasakan di wilayah daratan Wonogiri.

"Seperti dampak kerusakan bangunan dan lainnya. Karena itu kita gelar Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami itu diadakan sebagai edukasi kepada masyarakat. Kesiapsiagaan harus dibangun setiap saat karena gempa bumi tidak bisa diprediksi," papar dia.

Wakil Bupati (Wabup) Wonogiri Imron Rizkyarno mengatakan, pihaknya berterima kasih kepada BMKG dan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Sriyanto Saputra karena dengan adanya Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami bisa dilakukan langkah mitigasi oleh sejumlah pihak.

"Wilayah Wonogiri sangat kompleks. Ada gunung, hutan sampai pantai. Kegiatan ini sebagai persiapan dini menyikapi hal-hal yang tidak kita inginkan," kata dia.

Wabup menilai, pihak yang diundang sperti relawan hingga pihak sekolah bisa mendapatkan pengetahuan dan mengetahui apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi dan tsunami.

"Semoga kegiatan ini bisa dilakukan tiap tahun. Jadi menyegarkan ilmunya," pungkas Imron. (al)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#mitigasi bencana #edukasi #bpbd wonogiri #dampak gempa #Rawan