Kepala Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri Agus Suyitno mengatakan, longsor tebing yang menutup jalan Selogiri-Manyaran terjadi pada Jumat malam (3/1). Jalan tersebut menghubungkan
Dusun Beran, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri dengan Dusun Gembuk, Desa Bero, Kecamatan Manyaran.
”Longsor di kilometer 1,6 dari rumah terakhir. Hampir sampai di perbatasan Selogiri-Manyaran,” kata Agus, Sabtu (4/1).
Pihaknya bersama warga desa setempat sudah berupaya membuka akses jalan itu. Hanya saja, material longsoran belum selesai dibersihkan.
"Akan dilanjutkan besuk (hari ini). Ada batu-batu besar," katanya.
Menurut Agus jalan tersebut mulai dibuat akhir 2019 lalu. Sinergi antara masyarakat desa, pemerintah dan TNI melalui program tentara manunggal membangun desa (TMMD). Baru sekitar 700 meter jalan yang sudah dicor, sisanya masih tanah yang labil. Padahal panjang jalan sekitar 4 kilometer.
Meski belum sempurna, jalan tersebut sudah banyak dilalui warga masyarakat. Biasanya warga Manyaran yang akan ke Wonogiri atau Solo. Selain itu, banyak juga wisatawan yang menikmati keindahan hamparan pegunungan dan pedesaan dari jalan tembus.
”Jadi jalan ini cukup vital bagi warga di dua kecamatan itu,” jelasnya.
Sementara itu, talud jalan Pucanganom-Japurun di Kecamatan Giritontro ambrol akibat diterjang hujan lebat. Padahal proyek senilai Rp 7,9 miliar itu baru selesai dikerjakan empat bulan lalu.
"Talud ambrol pada Jumat (3/1) sekitar pukul 22.00," kata Camat Giritontro Fredy Sasono.
Lokasi ambrol di Dusun Ploso RT 01 RW 03 Desa Pucanganom. Panjang talud yang ambrol mencapai 25 meter dengan tinggi 1,2 meter. Dijelaskan, proyek bersumber APBD Wonogiri 2019 masih dalam masa pemeliharaan oleh penyedia jasa.
"Besuk (hari ini) penyedia jasa akan ke lokasi mengecek kondisi talud yang ambrol. Kemungkinam besar, Senin (6/1) langsung akan dikerjakan," tandasnya. (kwl/adi) Editor : Perdana Bayu Saputra