“Saya minta menghentikan sementara bus AKAP (antarkota antarprovinsi) dan bus pariwisata yang berasal dari Jabodetabek,” ujar Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah Hadi Santoso via sambungan telepon kemarin (27/3).
Hadi mengatakan, langkah ini untuk mengurangi jumlah pemudik dari Jabodetabek yang pulang kampung ke Jawa Tengah. Menurut dia, hal ini selaras dengan kebijakan Kementerian Perhubungan yang menghentikan perjalanan kereta api menuju Jateng dan Jatim per 1 April besok. Termasuk pembatalan 746 bus mudik gratis Lebaran dari pemerintah.
“Karena dalam semalam saja di Kabupaten Wonogiri ada banyak pemudik. Sampai ke pelosok-pelosok desa ada 30-40 orang mudik di setiap desanya. Mereka berasal dari daerah yang memiliki penyebaran virus Covid-19 cukup tinggi seperti dari Jakarta,” ujarnya.
Di Jawa Tengah memang sudah menegakkan protap di masing-masing terminal. Baik di terminal tipe A maupun B. Namun, persoalannya sarana dan prasarana serta petugasnya terbatas.
“Ini sangat mengkhawatirkan. Di desa alat maupun tenaga kesehatan sangat minim. Saya pantau para pemudik juga dijemput langsung oleh anggota keluarganya. Masyarakat di desa sulit dikontrol secara ketat untuk karantina selama 14 hari di rumah mereka,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Wonogiri Joko Sutopo (Jekek) mengatakan, pemkab telah membentuk Satgas Penanggulangan Covid-19. Termasuk menyambut momentum mudik warga Wonogiri.
“Kami sudah siapkan SDM yang kami miliki dan dibentuk satgas. Di dalamnya ada forkompimda, TNI-Polri, organisasi keagamaan, kepemudaan dan semuanya bersatu untuk melawan Covid-19,” jelasnya.
Jekek mengatakan, mudik merupakan kultur sosial warga Wonogiri. Sebanyak 28 persen warga Wonogiri adalah kaum boro. Atau sekitar 280 ribu sampai 300 ribu dari warga Wonogiri merantau. Karena itu, Jekek mengatakan tetap menyambut para pemudik.
“Kami lakukan screening di terminal tipe A. Kami juga berdayakan struktur sosial kita seperti ketua RT atau RW, tokoh agama, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat untuk pendataan,” bebernya.
Pendataan dilakukan untuk para pemudik yang pulang. Sehingga pemerintah memiliki data yang terukur dan bisa melakukan monitoring warga yang mudik. Selain itu, pemkab melalui ketua RT dan RW juga akan memberikan imbauan agar warga yang baru datang segera mengecek kondisi kesehatannya. Misal ada gejala klinis Covid-19 seperti demam dan suhu tubuh di atas 38 derajat celsius, mereka diminta segera memeriksakan diri di puskesmas terdekat.
Apa yang melatarbelakangi banyaknya warga pulang kampung, padahal Lebaran masih cukup lama? Jekek mengatakan, hal ini terjadi setelah diumumkannya darurat nasional oleh pemerintah dan di Jakarta banyak ditemukan kasus Covid-19.
“Ini menimbulkan kepanikan. Warga kami yang di Jakarta ada yang memilih menghindar dari zona merah di Jakarta,” jelasnya.
Di samping itu, budaya menghadiri hajatan dan budaya ruwahan mendorong warga pulang ke kampung halaman. Dia mengatakan, pada Rabu lalu (25/3), warga yang mudik sekitar 18 ribu. Dan yang berangkat ke luar daerah 15 ribu.
“Artinya ada keseimbangan. Ini harus dilihat, ada pandemi Covid-19 pasti, tapi juga ada budaya, kultur. Kami telah membangun relasi publik agar terbangun kesadaran warga guna melakukan pencegahan pandemi Covid-19,” ujarnya. (al/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra