Kepala Desa Nungkulan Devik Aleksander Wasa menuturkan, longsor terjadi Rabu (15/4) sekitar pukul 11.00 dengan jarak longsoran sekitar 200 meter. Beruntung, tiga rumah yang posisinya tak jauh dari lokasi kejadian aman.
Hanya saja, aliran Sungai Dungkenong yang menjadi pembatas antara Desa Nungkulan dan Desa Giriyoso terhambat akibat tertutup material longsor.
"Waktu kejadian juga tidak hujan. Cuacanya panas," terang Devik, Jumat (17/4). Menurutnya, saat kejadian, warga setempat mendengar suara gemeretak. Setelah dicek, ternyata gerakan material longsor berupa tanah bercampur batu.
Senada diterangkan Sekretaris Desa Giriyoso, Kecamatan Jatipurno Giyato. "Tidak ada hujan, tiba-tiba longsor," jelasnya. Fenomena tersebut menarik perhatian warga untuk melihat lokasi kejadian.
Ditambahkan Giyato, tanaman padi yang terdampak longsor seluas 1.200 meter persegi. Pemilik tanman padi itu sudah merelakannya. Saat ini, lokasi longsor tidak bisa ditanami kembali.
"Sementara ini (sisa longsor) belum ditangani. Sebab kan tidak boleh kumpul beramai-ramai untuk bekerja bakti. Pihak kecamatan menyarankan untuk menyewa alat berat," ujarnya.
Oleh karena itu, Giyato segera menghubungi pemilik alat berat dan operatornya untuk mengeruk material longsor. Bila tidak bersedia, alternatifnya adalah mencari tenaga warga. Terutama untuk membersihkan material longsor di sungai.
"Saat ini aliran sungai sedikit demi sedikit lumpurnya sudah ikut larut. Namun, belum semua endapan longsor tergerus aliran air,” tuturnya. (al/wa/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra