Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Wonogiri FX. Pranata mengatakan, sebelum objek wisata di Kota Sukses dibuka, pihaknya sudah mengundang para pelaku atau pengelola tempat plesiran. Setidaknya, ada 30 orang yang diajak bicara atas kebijakan pembukaan objek wisata.
Semua pihak menyepakati agar penerapan prokes di objek wisata bisa dilakukan dengan ketat. Sarana dan prasarana penunjang prokes harus disiapkan. Misalnya tempat cuci tangan dengan air sabun.
Sesuai dengan Surat Edaran (SE) Bupati Wonogiri Nomor 443.2/825 tentang Pemberlakuan Pelonggaran Kegiatan Perekonomian Masyarakat Pada Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Wonogiri yang dikeluarkan 12 April lalu, kegiatan usaha pariwisata diizinkan untuk dibuka, namun tetap memperhatikan protokol kesehatan. Daya tampung tempat plesir maksimal 50 persen dari kapasitas. Selain itu, turut disepakati bahwa pembukaan objek wisata dilakukan secara bertahap.
”Jadi tidak langsung dibuka byak begitu. Tapi tetap memperhatikan zonasi wilayah tersebut,” beber Pranata, kemarin (18/4).
Dia menambahkan, apabila ada RT yang termasuk zona merah atau ditemukan klaster di sekitar objek wisata, maka objek wisata tersebut harus dilokalisasi atau ditutup untuk sementara. Hal itu demi mengurangi potensi kerumunan. Berpedoman dengan pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro.
Apabila grafik penularan Covid-19 menurun di daerah tersebut, maka objek wisata bisa dibuka kembali. Sesuai SE Bupati Wonogiri Nomor 443.2/825 sebuah daerah dikatakan zona merah apabila dalam satu RT terdapat lebih dari lima rumah dengan kasus terkonfirmasi positif korona selama tujuh hari terakhir. Pihaknya menjadikan PPKM mikro sebagai pedoman dan rujukan.
Selain itu, kata Pranata, pengelola objek wisata juga harus melakukan pengawasan penerapan protokol kesehatan para pengunjung secara mandiri. Para pengelola harus menyadari pentingnya hal tersebut dan harus melakukannya. Misalnya ada pengunjung yang berkerumun harus diingatkan oleh petugas.
Pihaknya sebelumnya telah meminta para pengelola objek wisata untuk melakukan simulasi. Tujuannya, saat tempat plesir dibuka, maka penerapan protokol kesehatan sudah siap.
”Persiapan untuk itu sebelumnya sudah. Selain itu, kesadaran masyarakat saat ini juga sudah semakin tumbuh,” tandasnya. (al/adi) Editor : Perdana Bayu Saputra