Camat Pracimantoro Warsito mengatakan, ada keinginan untuk mengembangkan pariwisata di Embung Ngaluran, Desa Sumberagung. Sebab, suasana embung sangat asri dan cocok dikembangkan sebagai tempat plesiran.
Menurut dia, pengembangan pariwisata di sana bisa dilakukan dengan penyediaan perahu kayuh. Namun yang menjadi kendala adalah cepatnya air embung surut.
”Kalau sudah surut kan itu tidak bisa digunakan, mangkrak. Kendalanya di situ,” kata dia belum lama ini.
Warsito menambahkan, saat musim hujan, air embung memang penuh. Namun, air embung mulai surut perlahan saat memasuki musim kemarau.
”Paling September sudah kering, di situ masalahnya,” kata dia.
Luas embung itu, lanjut dia, sekitar 1.000 meter persegi. Sementara kedalamannya bervariasi. Mulai dari tiga meter hingga lima meter. Selama ini, embung tersebut juga dimanfaatkan warga. Bibit ikan seperti nila dan tombro ditebar oleh warga di embung itu.
Warga pun memancing ikan di sana saat ikan mulai besar. Selain itu, saat embung mulai mengering, warga sekitar mulai menangkapi ikan-ikan di embung itu.
”Jadi nanti pas air embung sudah mulai terisi kembali disebar bibit ikan lagi,” kata dia.
Selain itu, embung tersebut juga dimanfaatkan warga untuk mandi dan sumber air minum ternak. Air embung tidak digunakan sebagai konsumsi warga, sebab sudah ada sumber air bawah tanah dari luweng sekitar yang disedot.
”Sebenarnya ada sumur resapannya juga. Tapi setelah air bawah tanah di Luweng Songo bisa dioptimalkan sudah sangat jarang warga yang memanfaatkan sumur resapan ini,” tandasnya. (al/adi) Editor : Perdana Bayu Saputra