Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Wonogiri Cahyo Sukmana mengatakan, berdasarkan hasil rapat koordinasi bersama pemkab dan sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam, salat Id diperbolehkan digelar secara berjamaah di masjid atau musala terdekat dengan protokol kesehatan ketat.
Masyarakat dilarang menggelar salat Id di lapangan. Sebab, dikhawatirkan ada orang tak dikenal yang tidak jelas kondisi kesehatannya ikut menjalankan salat berjamaah.
Imbauan Kemenag lainnya, usai mendirikan salat Id, umat muslim diimbau langsung pulang tanpa melakukan silaturahmi ke rumah tetangga maupun saudara secara langsung. Silaturahmi bisa dilakukan secara virtual.
"Apalagi di situasi seperti ini sudah ada imbauan dari Satgas Penanganan Covid-19 pusat bahwa di daerah aglomerasi juga dilarang ada mudik. Jadi silaturahmi secara virtual saja. Pakai handphone juga bisa" paparnya.
Dengan begitu, kontak fisik bisa diminimalkan dan jalinan silaturahmi tetap erat. "Semoga saja dengan hal ini semuanya bisa tetap sehat," harap Cahyo.
Senada dengan Kemenag, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wonogiri mengimbau umat muslim melakukan silaturahmi atau halabihalal secara virtual.
Ketua MUI Wonogiri Hariyadi menjelaskan, salat Id termasuk sunah muakkad. Namun, akan lebih baik jika menjaga agar tidak terjadi kerusakan yang lebih banyak akibat pandemi.
“Idealnya kan ada silaturahmi. Tapi kalau dengan itu tidak bisa menjaga jarak dan khawatir terjadi kerusakan yang lebih (parah), maka pencegahannya harus jadi prioritas,” tuturnya.
Ajang silaturahmi secara virtual, imbuh Hariyadi, bukan persoalan sulit karena perangkat teknologi telah canggih dan dapat diakses siapa saja. “Saat kami rapat bersama Kemenag dan ormas Islam lain, arahnya dapat memanfaatkan perkembangan digital. Silaturahmi virtual, nilai dan maknanya sama dengan bertatap muka. Karena kondisinya seperti ini, sudah terwakili itu," pungkas Hariyadi. (al/wa/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra