“Tapi kemungkinan saat ini sudah berkurang jumlahnya. Mungkin tidak 20 desa lagi," ungkap Kepala Diskominfo Wonogiri Heru Nur Iswantoro.
Menurutnya, bisa saja blank spot hanya terjadi di beberapa dusun. Di lokasi tersebut tersedia sinyal 2G/GPRS yang dapat digunakan untuk menelepon atau berkirim pesan singkat.
Kawasan yang sama sekali tak dapat mengakses internet, lanjut Heru, yakni di Desa Tlogosari, Kecamatan Giritontro. Bahkan untuk menelepon menggunakan telepon seluler, sangat sulit. “Desa-desa yang kesulitan mengakses internet banyak terdapat di Wonogiri bagian selatan," ujarnya.
Sejumlah desa yang terkategori blank spot juga didapati di Kecamatan Tirtomoyo, Karangtengah, Paranggupito, dan Pracimantoro.
Kondisi tersebut disebab letak geografis yang merupakan pegunungan atau perbukitan, sehingga sulit ditembus sinyal internet. Ditambah belum semua desa tersedia base transceiver station (BTS) atau menara telekomunikasi. Di daerah lain yang areanya tak begitu terhalangi gunung maupun bukit, menara telekomunikasi bisa dipasang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Wonogiri dalam Statistik Potensi Desa Kabupaten Wonogiri yang dirilis 2018 lalu, hanya ada 134 desa atau kelurahan yang sudah tersedia BTS, sedangkan 160 desa atau kelurahan lain belum memilikinya.
"Keberadaan pohon-pohon besar pun kadang menghalangi sinyal. Di daerah selatan kan masih banyak pohon-pohon yang besar," papar Heru.
Diterangkan Heru, dibutuhkan biaya besar untuk membangun menara telekomunikasi. Apalagi diperlukan di banyak titik. "Biaya mendirikan BTS besar. Memang biaya bandwidth-nya murah, yang mahal itu infrastrukturnya," jelas dia.
Tantangan lain mendirikan BTS adalah sumber daya listrik. Jika BTS dibangun di kawasan perbukitan, maka butuh kabel listrik sangat panjang. Itupun ada risiko kabel putus.
Apakah tidak bisa menggunakan solar cell atau tenaga surya? Heru mengatakan, cara itu dibutuhkan aki dan rawan dicuri. (al/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra