Salah satu bukit fenomenal adalah Bukit Cumbri yang berada tepat di ujung timur Jawa Tengah. Menyuguhkan pemandangan enam kabupaten yang meliputi Wonogiri, Ponorogo, Madiun, Magetan, Karanganyar bahkan Pacitan.
Letak Bukit Cumbri berada di Desa Kepyar, Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri. Bukit Cumbri mudah diakses karena ada tiga rute pintu masuk. Rute utama dapat ditempuh dari Wonogiri tepat sebelum tugu perbatasan dengan Kabupaten Ponorogo. Dua Rute lainnya dapat ditempuh dari Ponorogo dan Madiun.
Akses termudah untuk dipilih yakni rute Wonogiri, karena jalannya mulus tanpa melalui medan yang sulit seperti rute lainya. Kendaraan pribadi seperti mobil ataupun motor dapat diparkirkan pada pos-pos keamanan warga untuk penitipan kendaraan. Ada pula warung yang disediakan sebagai pelengkap bila ada keperluan yang kurang. Fasilitas lain yang tersedia meliputi toilet dan tempat sewa peralatan camping.
Tiket masuk hanya dipatok Rp 3000, terbilang murah untuk panorama alam yang didapat. Pengunjung berjalan kaki menuju puncak lewat jalan setapak yang cukup landai dengan menempuh perjalan hanya sekitar 1 jam.
Tidak perlu khawatir tersesat atau salah rute. Sepanjang jalan menuju lokasi sudah tersedia papan penunjuk jalan yang jelas. Selain itu, banyak penduduk setempat yang dapat ditanyai dan ramah kepada pengunjung.
Bagi pengunjung yang menginginkan rute untuk motor trail dapat menggunakan rute timur. Medan yang terjal sangat cocok bagi kalian yang menyukai tantangan. Tak perlu khawatir harus merogoh kocek lebih, karena pihak pengelola tetap mematok harga yang sama walaupun membawa kendaraan.
”Dulu sebelum ada Covid-19 bukit ini sangat ramai, karena ya memang bagus pemandangannya. Bisa lihat enam kabupaten dan di atas sepuasnya. Harga yang murah lagi. Sekarang tetap buka tapi belum ada pengelolanya. Jadi pendaki harus mandiri.” jelas Situn, 55 pengurus warung pendakian Bukit Cumbri.
Pengunjung dapat menikmati pemandangan sunset dan sunrise di puncak bukit tanpa mengeluarkan banyak tenaga. Pengunjung juga diperbolehkan berkemah di lahan yang sudah ada. Lahan berkemah tidak disediakan secara khusus, tetapi merupakan lahan kosong yang dimanfaatkan oleh pengunjung. Hal ini menjadi tantangan bagi pengunjung yang berkemah pertama kali karena harus mencari lahan yang sesuai.
”Saya berangkat dari Ponorogo jam 3 sore, sampai sini pas banget waktu sunset. Terus saya mendirikan tenda dan buat api unggun. Lanjut makan sambil quality time bareng teman-teman. Paginya bangun tidur langsung lihat sunrise. Rasanya fresh banget,” kata Wahyu Tri, 21, pecinta alam asal Ponorogo.
Tidak hanya dapat menikmati pemandangan enam kabupaten, susunan bebatuan secara acak yang alami dapat dijadikan spot foto yang estetik. Perlu kewaspadaan bagi pengunjung yang ingin menaiki bebatuan, karena pengelolanya tidak mesti ada di lokasi. Apalagi di masa pandemi yang sepi pengunjung sehingga pengelola tidak terlalu sering memantau.
”Bukit Cumbri recommended buat ngecamp. Perjalanan ke atas juga tidak menguras banyak tenaga. Terus di puncak terbayar semua capeknya. Pemandangannya sangat bagus seperti surga di atas awan, jadi candu pendaki pemula untuk naik gunung lagi,” imbuh dia.
Memang view Bukit Cumbri tiada duanya. Karena keindahanya tidak dapat dipungkiri. Sunrise di atas bukit merupakan spot foto yang sangat mengagumkan. Begitu terkenalnya bukit ini pada awal 2016 dengan foto-foto pengunjung yang di-upload ke sosial media.(mg4/mg5/adi/dam) Editor : Perdana Bayu Saputra