"Bikinlah video yang kreatif, yang lucu-lucu misalnya. Materinya bisa soal pasien tanpa gejala itu seperti apa dan sebagainya," ujar Joko Sutopo, Senin (19/7).
Selama ini, sosialisasi tentang bahaya dan pencegahan Covid-19 yang disampaikan lewat media tulisan dianggap kurang optimal. Mengingat budaya literasi masyarakat masih minim. Berbeda ketika edukasi itu dilakukan dengan membuat audio visual, diharapkan lebih mudah dipahami.
Konten edukasi audio visual yang menarik, imbuh bupati, tidak harus dengan biaya tinggi. Terpenting isinya tepat sasaran. "Karikatur juga bisa, dibikin yang menarik. Kalau itu di-share ke masyarakat pasti bisa lebih mengena," ungkap bupati.
Materi audio visual tak perlu terlalu panjang. Pilih kata-kata yang tepat dan mudah dicerna seluruh lapisan agar memberikan pemahaman senada untuk memerangi pagebluk.
"Saya harap ada bentuk visualisasi yang juga menghibur. Ketika dilihat warga yang sedang isoman (isolasi mandiri), bisa senang," ucap bupati yang akrab disapa Jekek itu.
Di lain sisi, Jekek meminta masyarakat yang menjalani isoman jujur dengan kondisi kesehatannya guna mempercepat penanganan. "Jangan sampai sudah gagal napas baru dibawa ke rumah sakit. Masih menunggu penanganan terus meninggal," tuturnya.
Imbauan agar disiplin memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas tak lupa selalu disampaikan bupati. (al/wa) Editor : Syahaamah Fikria