"Awalnya usaha sambilan. Pekerjaan tetapnya sopir minibus trayek Baturetno - Giribelah - Donorojo (Pacitan)," jelasnya, kemarin.
Sejak Corona melanda sekitar dua tahun lalu, penghasilannya sebagai sopir minibus anjlok. Sentot memutar otak untuk mendapatkan uang tambahan.
Sebagai sopir minibus, Sentot mulai narik pukul 02.00-06.00. Siang harinya, dia menyibukkan diri membuat miniatur truk.
Kerajinan tersebut berbahan dasar tripleks dengan ketebalan tiga milimeter. Tripleks dipotong sesuai pola kemudian dirakit. Pembuatan miniatur truk hingga finishing butuh waktu dua hari.
"Sehari bisa ready dua miniatur. Saya sendiri yang bikin. Mulai dari merakit dan mengecat. Nggak punya stok karena banyak yang cari," ujarnya.
Miniatur truk banyak diminati anak-anak karena akrab menonton truk oleng di YouTube. Satu buah miniatur truk dibanderol Rp 60 ribu, sedangkan yang dilengkapi lampu LED dan beberapa variasi dipatok Rp 100 ribu.
“Yang membedakan harganya hanya pada tambahan aksesorinya. Soal bahan dan cat, sama saja,” ungkapnya.
Sentot tak menyangka usaha sambilannya mendapatkan tempat di hati masyarakat, hingga luar Wonogiri. Padahal tak pernah dipromosikan. Hanya gethok tular alias diinformasikan dari mulut ke mulut.
"Selain warga sini (Kecamatan Baturetno) ada juga yang pesan dari Pacitan, Wonosari, dan Karanganyar. Saya juga nggak menyangka banyak peminatnya," ujarnya. (al/wa/dam) Editor : Damianus Bram