Menara itu berbentuk prisma segi empat, ketinggiannya sekitar 22 meter. Project Manager PT PP Bendungan Pidekso Nur Eko mengungkapkan, bangunan itu merupakan menara yang menjadi ikon Bendungan Pidekso yang mendapatkan apresiasi dari sejumlah pejabat tinggi.
”Bukan menara terbaik di Indonesia, namun diapresiasi banyak orang. Termasuk dari RI 1 (Presiden Joko Widodo) saat melihat gestur beliau ketika meresmikan Waduk Pidekso beberapa waktu lalu,” ujar Nur Eko, Minggu (9/1).
Dia menjelaskan, menara itu dibangun dengan menggabungkan konsep khas Wonogiri. Termasuk mengadaptasi bangunan joglo, Tugu Ireng Selogiri dan juga motif batik di sejumlah ornamennya.
Lantai dasar menara itu menyerupai joglo atau pendapa. Lalu, ornamen-ornamen yang menghiasi dasar menara menyerupai Tugu Ireng Selogiri. Sementara untuk dindingnya memiliki ornamen batik warna merah, nampak seperti hiasan di dinding luar Pasar Kota Wonogiri.
Informasi yang dihimpun, dari lantai tertinggi, pengunjung bisa menyaksikan panorama bentang alam Waduk Pidekso yang dikelilingi pegunungan di wilayah Kecamatan Giriwoyo.
Terpisah, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo Agus Rudyanto menuturkan pembangunan menara Waduk Pidekso ditangani oleh arsitek asal Semarang.
”Fungsi utama dari bangunan itu adalah untuk memantau wilayah waduk dari ketinggian,” ujar dia.
Sekadar informasi, Waduk Pidekso mulai dikerjakan sejak 2018 dengan total anggaran sekitar Rp 700 miliar. Awalnya, pembangunan waduk ditargetkan selesai pada Desember 2022. Namun, targetnya dipercepat menjadi Desember 2021.
Waduk Pidekso mampu menyuplai irigasi untuk 1.500 hektare sawah di Kecamatan Giriwoyo dan Baturetno. Selain itu bermanfaat menyuplai air baku hingga 300 m3 per detik, pengendali banjir hingga berpotensi menjadi destinasi wisata. Bendungan itu diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 28 Desember 2021 lalu. (al/adi/dam) Editor : Damianus Bram