”Selama 2021 kami melakukan evakuasi 137 sarang tawon. Kalau tahun sebelumnya (2020) hanya ada 88 sarang tawon dievakuasi. Di awal tahun ini sudah 13 evakuasi kami lakukan. Hampir tiap hari ada,” terang Kepala UPT (Damkar) Wonogiri Joko Santosa, Minggu (16/1).
Joko menerangkan, evakuasi sarang tawon itu dilakukan di sejumlah kecamatan. Di antaranya di Kecamatan Wonogiri Kota, Selogiri, Ngadirojo hingga Baturetno. Namun, paling sering di wilayah Kecamatan Wonogiri Kota dan sekitarnya.
”Yang dievakuasi itu sarang yang berada di pemukiman masyarakat. Apalagi yang ada di pemukiman padat,” kata dia.
Joko tak menampik bahwa pihaknya juga menerima permintaan agar bisa mengevakuasi sarang tawon yang berada jauh dari pemukiman warga. Namun biasanya, laporan semacam itu tak ditindaklanjuti supaya tak mengganggu ekosistem. Karena itu, pihaknya memberikan edukasi kepada masyarakat supaya memahaminya.
”Yang penting kan sarangnya tidak diganggu, tidak dilempari sebenarnya juga aman. Yang kita tangani rata-rata di rumah atau dekat dengan rumah warga,” beber dia.
Belum lama ini BU, 40, warga Dusun Watuagung RT 01 RW 02 Desa Watuagung Kecamatan Baturetno tewas usai disengat koloni tawon vespa saat akan membersihkan rumah kosong di Dusun Kauman RT 02 RW 03 Desa Balepanjang Rabu (5/1) lalu. Korban meninggal dunia pada Rabu malam dan dimakamkan pada Kamis (6/1).
Joko mengatakan, pada akhirnya sarang tawon di rumah kosong itu dievakuasi oleh personel dari Pos Damkar Baturetno pada Rabu (12/1) lalu. Para petugas menggunakan alat pelindung untuk mengevakuasi sarang tawon itu.
Atas kondisi itu, Joko mengingatkan masyarakat awam tidak melakukan evakuasi sarang tawon begitu saja. Apalagi bagi orang yang tidak memiliki keterampilan dan tidak memakai alat pelindung diri.
”Kalau tidak punya keahlian silahkan panggil damkar saja. Kan juga gratis. Semisal memang mau melakukan evakuasi sendiri, usahakan dilakukan di malam hari dan pakai alat pelindung supaya tidak tersengat,” tandasnya. (al/adi/dam) Editor : Damianus Bram