Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri Bambang Haryanto mengatakan, berdasarkan data yang dimilikinya ada 39 desa/kelurahan di 14 kecamatan di Wonogiri yang melaporkan terjadinya serangan kera.
"Catatan kami, ada 218 dusun atau lingkungan yang disambangi kera. Kebanyakan adalah daerah yang berbatasan dengan wilayah hutan yang dihuni kera,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (22/3).
Binatang bernama latin Macaca Fascicularis itu tak hanya memasuki wilayah pertanian masyarakat, namun juga masuk ke area pemukiman. Bahkan nekat sampai masuk ke dalam rumah warga untuk mencari makanan.
"Alhamdulillah belum ada laporan serangan ke manusia," ungkapnya.
Lalu apa yang mengakibatkan kera bisa masuk ke lahan pertanian atau pemukiman warga? Bambang menuturkan, berdasarkan pengamatannya ada beberapa penyebab terjadinya hal itu.
"Pertama populasi kera ekor panjang makin besar. Kemudian yang kedua ketersediaan makanan di dalam hutan minim, butuh upaya pengkayaan (penanaman tanaman buah) di hutan," ungkap pria berstatus mantan Camat Selogiri itu.
Bambang menuturkan kera yang masuk ke ratusan lingkungan di ratusan desa itu tak hanya terjadi di tahun ini saja. Namun kumulatif sejak tahun-tahun sebelumnya.
"Di sejumlah titik kejadiannya kerap terulang," beber Bambang.
Atas kondisi itu, menurut Bambang, masyarakat tidak bisa berbuat banyak. Misalnya, masyarakat hanya bisa menunggu lahan pertanian miliknya atau menghalau kera sebisa mungkin dengan bantuan anjing yang dipelihara.
Bahkan, kata Bambang, saat ini tren serangan kera sudah tak mengenal musim. Jika dulu serangan kera biasa terjadi di musim kemarau, kini di musim hujan serangan kera juga bisa terjadi.
"Kami terus mencoba berkoordinasi dengan BKSDA supaya nantinya ada langkah konkret yang diambil," paparnya.
Bambang menuturkan sejumlah upaya sudah dilakukan untuk mengatasi serangan kera. Diantaranya adalah mendorong masyarakat untuk menanam tanaman yang bisa dimakan buahnya oleh kera di perbatasan hutan atau di lingkungan sekitarnya.
Pihaknya pun berupaya menyiapkan bibit tanaman buah seperti jambu, matoa dan lain sebagainya yang dikembangkan di kebun bibit BPBD Wonogiri. Selain itu, BPBD juga berkoordinasi dengan balai konservasi sumber daya alam (BKSDA). (al/nik/dam) Editor : Damianus Bram