”Memang Bendo sejak dulu sentra (wayang kardus). Tapi akhir-akhir ini makin berkurang perajinnya,” ujar Giyarto, salah seorang perajin wayang kardus dari Dusun Bendo RT 03 RW 02 Desa Ngaglik, Sabtu (16/4).
Dia menuturkan, dulu ada 50 orang perajin wayang kardus di Dusun Bendo. Saat ini, menurut dia, mencari 30 orang perajin wayang kardus di sana sudah sulit. Makin langkanya perajin wayang kardus dikarenakan sejumlah hal. Salah satunya adalah penghasilan yang tak menentu dari wayang kardus. Sebagian dari mereka memilih untuk melanjutkan pekerjaan utama yang dinilai lebih menjanjikan, yaitu bertani. ”Bahan baku juga harganya makin naik,” kata dia.
Giyarto mengatakan, kertas duplex yang menjadi bahan utama wayang kardus harganya semakin mahal. Beberapa waktu setelah Corona melanda, harga selembar kertas duplex dari Rp 3.500 naik sedikit demi sedikit. Saat ini, harga selembar kertas duplex mencapai Rp 5.500. Meski begitu, juga muncul perajin wayang kardus di generasi yang baru. Anak Giyarto juga kini membuat wayang kardus.
Meski penjualan wayang kardus sempat seret saat awal pagebluk, kini pesanan wayang kardus mulai mengalir, terutama dari penjualan online.
Wayang kardus yang dijual secara online dibanderol dengan harga eceran. Satu wayang kardus dihargai Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Giyarto juga membuat variasi wayang kardus sesuai dengan pesanan yang dibanderol lebih mahal.
”Kami ada stok wayang kardusnya. Ada lebih dari 100 nama wayang. Jangan sampai stok habis saat mau dibeli orang,” kata dia.
Meski begitu, masih ada pedagang yang mencari wayang kardus ke rumah produksinya. Misalnya dari Semarang. Namun, pesanan banyak mengalir dari penjualan online.
”Ada juga pesanan dari luar Jawa misal Sumatra. Terkadang belinya juga banyak, 20 biji. Mungkin disana juga mau dijual lagi, kalau seperti itu kita kasih keringanan,” pungkas Giyarto. (al/adi/dam) Editor : Damianus Bram