"Alat itu dapat digunakan untuk memproses air hujan menjadi air siap minum," terang Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri Bambang Haryanto.
Cara kerja alat tersebut, air hujan yang melewati talang disaring dan ditampung di bak penampungan yang mampu menampung 1.000 liter air. Dari bak penampungan, air hujan dialirkan ke bejana yang sudah dipasangi alat elektrolisa sederhana. Fungsinya, memisahkan kandungan air asam dan basa. Nah, setelah itu, air yang bersifat basa bisa langsung diminum. “Kalau menurut saya, airnya lebih segar ketika diminum,” ujar Bambang.
Saat diukur menggunakan alat total disolved solids (TDS) yang mengukur padatan terlarut di air atau kekeruhannya, hasil pemanenan air hujan memiliki angka rendah, yakni di angka 14. Sementara saat dilakukan pengecekan air keran, angkanya 109.
Angka pengecekan tingkat kekeruhan air panenan hujan, lanjut Bambang, lebih rendah dibandingkan dua merek air mineral. Meski begitu, perlu dilakukan pengecekan di lab ntuk memastikan kandungan air panenan hujan agar lebih aman dikonsumsi.
Alat itu disebut dapat dimanfaatkan untuk konservasi air. Apalagi jika digunakan di banyak tempat, sehingga air hujan tidak begitu saja terbuang.
“Dari selokan, air masuk sungai dan menambah kapasitas air. Kalau kapasitas airnya tak tertampung di sungai, kan bisa mengakibatkan banjir. Air bisa kita jaga dan lebih dimanfaatkan," pungkas Bambang. (al/wa/dam) Editor : Damianus Bram