Butuh keahlian yang baik untuk membuat kerajinan rancak gamelan. Satu seorang perajin di Wonogiri yang masih eksis membuatnya adalah Eko Wiyono, warga Jatibedug, Kelurahan Punduhsari, Wonogiri. Dia mengakui mulai merintis usaha rancak gamelan sejak 1999 silam.
Selain untuk mencari keuntungan demi menyejahterakan keluarganya, niat utamanya adalah melestarikan budaya juga. Dia mengakui turut mempertahankan Lingkungan Jatibedug sebagai sentra rancak gamelan, yang sejatinya sudah ada sejak dulu.
"Kendalanya saat ini pemasaran dan pandemi Covid-19. Dampaknya juga saya rasakan. Saya harus mengurangi karyawan. Dari 36 orang, akhirnya saya kurangi jadi 17 karena saya tidak mampu membayar," terangnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (1/7).
Pria yang lebih dikenal dengan sebutan Komir itu menerangkan, saat ini kerajinan rancak gamelan masih belum pulih seutuhnya.
Jauh kebelakang, Komir menuturkan awal bisnisnya dimulai dari saat belajar membikin rancak gamelan dari salah seorang sesepuh di daerahnya yang juga memproduksi rancak gamelan.
"Setelah bubar sekolah waktu itu, anak-anak disini banyak yang langsung belajar memahat dan mengukir," ujarnya.
Nah, itu sudah jauh berbeda 180 derajat dibandingkan saat ini. Menurut Komir, sulit mencari anak-anak yang mau belajar membuat rancak gamelan.
"Walaupun tiap tahun ada anak yang mau belajar, tapi tidak semeriah dulu. Kalau dulu anak-anak bersaing. Cepet-cepetan, mana yang bisa. Kalau sekarang beda, awang-awangen mungkin," urainya.
Meski begitu, Komir masih terus berusaha melestarikan kerajinan rancak gamelan. Anaknya dilatih untuk membuat rancak gamelan. Itu supaya budaya Jawa tak hilang.
Sementara itu, rancak gamelan yang diproduksinya sudah melanglang buana. Bahkan hingga ke benua lain. Ada hasil produksinya yang dibeli oleh pihak lain, kemudian dijual lagi hingga ke luar negeri.
"Malaysia ada, Brunei dan Kanada juga pernah ikut membeli. Yang ambil orang Jogja sama Semarang, terus dijual ke luar negeri," papar Komir.
Diakuinya rancak gamelan satu set laras slendro dan pelog dengan bahan kayu mahoni yang sudah diukir dijualnya sekitar Rp 17,5 juta hingga Rp 22,5 juta. Sementara jika dengan bahan kayu jati bisa lebih mahal lagi.
"Kalau bahannya kayu jati harganya Rp 35 juta sampai Rp 55 juta satu set laras slendro dan pelog," tandasnya. (al/nik) Editor : Damianus Bram