Kepala Desa Paranggupito Dwi Hartono mengatakan, pihaknya rutin menggelar Labuhan Ageng saat kasus Covid-19 tinggi-tingginya, Labuhan Ageng digelar terbatas. Namun kali ini, agenda itu bisa dinikmati pengunjung.
”Lewat Labuhan Ageng ini, kami harapkan bisa memunculkan potensi yang ada di Desa Wisata Paranggupito,” ujar Dwi, kemarin (31/7).
Dia menjelaskan, rangkaian Labuhan Ageng dimulai sejak Jumat siang. Di mana dilakukan gelar potensi anak-anak hingga orang dewasa setempat. Mulai dari tari kreasi Kethek Segoro Kidul (Sedul), tari kreasi anak, hingga kesenian cokekan.
”Cokekan itu seni budaya lama untuk menghibur orang-orang tua zaman dahulu seusai bekerja,” terang Dwi Hartono.
Pada Jumat sore, dilanjutkan kirab dan juga Labuhan Ageng. Dalam upacara Labuhan Ageng itu, dilarung kepala sapi beserta kaki dan beberapa bagian jeroan sapi yang dirangkai dengan bambu. Kemudian diberi bunga-bunga kantil, melati, mawar dan sebagainya lalu dilarung di Pantai Sembukan.
Dwi menambahkan, pada malam harinya, digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Sugeng Setyo Prayitno dan Ki Joko Tri Hastono. Mereka membawakan lakon Bimo Labuh yang menceritakan tentang pengabdian seorang Bimo yang rela berkorban demi negaranya.
Kepala Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Disporapar) Wonogiri Haryanto mengaku bangga karena masyarakat masih melestarikan budaya dengan menggelar Labuhan Ageng untuk menyongsong tahun baru 1 Muharram.
”Kami juga berharap potensi wisata di Paranggupito diberdayakan, dikembangkan dan dijual. Baik budaya maupun keindahan alamnya. Hal itu demi mewujudkan Wonogiri yang maju, mandiri dan sejahtera dari sektor pariwisata dan budaya,” tandasnya. (al/adi/dam) Editor : Damianus Bram