Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dilema Branjang Apung di Waduk Gajah Mungkur: Ekosistem Ikan Terancam, Apa Solusinya?

Syahaamah Fikria • Selasa, 20 September 2022 | 17:00 WIB
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengunjungi rumah Ny Jongkis yang sangat sederhana namun penuh toleransi di kawasan Pecinan, Selasa (1/2).
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengunjungi rumah Ny Jongkis yang sangat sederhana namun penuh toleransi di kawasan Pecinan, Selasa (1/2).
Keberadaan branjang apung selama ini menjadi persoalan rumit. Satu sisi ini terkait pesoalan ekonomi, namun di sisi lain ekosistem ikan di perairan Waduk Gajah Mungkur (WGM) terancam.

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri

HAWA dingin menyeruak di pinggiran Waduk Gajah Mungkur (WGM) Sabtu (17/9) pagi pukul 06.15. Tampak sejumlah nelayan menjala ikan tak jauh dari pinggiran waduk.

Jawa Pos Radar Solo bersama rombongan terdiri dari enam penumpang bersiap-siap untuk menaiki perahu. Perahu itu bakal mengantarkan lebih dekat menuju wilayah perairan yang disebut Kalimati, Betal lama yang masuk di Kecamatan Nguntoronadi. Di lokasi itu, banyak branjang apung yang bertebaran.

Setelah semua penumpang naik, mesin perahu dinyalakan. Menembus ombak kecil di perairan WGM. Percikan air tak terhindarkan dan membasahi pakaian para penumpang.

Perjalanan air itu memakan waktu sekitar 20 menit. Di tengah perjalanan, tampak sejumlah nelayan sedang menjala ikan. Mendekati wilayah Kalimati, mulai kelihatan dari kejauhan branjang apung yang bertebaran.

Selain itu, juga terlihat sejumlah "bendera terapung". Saat didekati, ternyata itu merupakan potongan bambu yang diberi batu sebagai pemberat dan botol plastik yang membuat bambu itu tetap mengapung seperti bendera.

Benderanya terbuat dari plastik ataupun kantong plastik bekas dengan warna hitam atau putih. Bentuknya beraneka ragam. Ada yang kotak, persegi panjang dan segitiga. Warnanya juga bermacam-macam. Bendera itu adalah tanda dari keberadaan jaring keruk.

"Biasanya branjang apung dan jaring keruk ini beroperasi saat malam hari. Kalau sudah siang biasanya nggak berani," ujar salah satu awak perahu.

Rombongan makin dekat lagi dengan lokasi branjang apung yang lokasinya terpencar. Jumlahnya sangat banyak. Sejumlah nelayan kecil menjala ikan.

Branjang apung itu dibikin dari bambu yang diseting sedemikian rupa dengan rumah-rumahan yang terbuat dari bambu dan beratapkan terpal. Keberadaannya masih menjadi ancaman bagi ekosistem air, utamanya ikan di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, branjang apung dan jaring keruk banyak betebaran di perairan WGM. Mulai dari area Kalimati, Betal Lama di Kecamatan Nguntoronadi hingga perairan WGM yang masuk Kecamatan Baturetno hingga Wuryantoro.

Keberadaan branjang apung di perairan WGM juga mendapatkan perhatian dari komunitas yang menamakan diri Komunitas Peduli dan Lindungi WGM. Komunitas itu mengklaim gabungan komunitas di sekitar WGM, seperti komunitas pemancing, pelaku usaha (pedagang, penjual alat pancing, persewaan perahu dan lainnya) hingga nelayan kecil.

Salah satu pegiat Komunitas Peduli dan Lindungi WGM Gunawan mengatakan, pihaknya bukan berarti merasa dirugikan dengan adanya branjang apung di sekitar WGM. Dia hanya ingin agar keberadaan branjang apung ataupun jaring keruk ini mendapat solusi.

"Kami ingin tidak ada yang dirugikan dengan situasi saat ini," kata Gunawan di pinggiran WGM, Sabtu (17/9).

Gunawan ingin duduk bersama dengan pihak-pihak terkait untuk membicarakan tentang branjang apung maupun jaring keruk. Atau dengan adanya aturan baru yang mengatur keberadaan dua alat penangkap ikan ini.

Seperti diketahui, branjang apung ataupun jaring keruk memiliki lubang jaring tergolong kecil sehingga juga menjaring ikan-ikan yang masih kecil. Padahal, ikan kecil itu masih bisa tumbuh besar kemudian bertelur. Dengan keberadaan branjang apung dan jaring keruk, ekosistem ikan terancam.

Gunawan menuturkan, pihaknya ingin ekosistem ikan WGM bisa pulih seperti dulu. Sebab, populasi ikan di WGM sudah tak seperti beberapa tahun belakangan. Itu juga yang membuat pemancing dari dalam maupun luar Kota Sukses makin sedikit yang memancing di Waduk Gajah Mungkur.

"Kalau ekosistemnya seperti dulu lagi, pemancing bakal banyak lagi. Efeknya, pelaku ekonomi di sekitar Waduk Gajah Mungkur juga bisa manfaatnya dari itu. Nelayan tidak dirugikan, komunitas pemancing juga senang," papar Gunawan.

Semisal branjang apung ataupun jaring keruk tak bisa dihilangkan sepenuhnya, kata dia, setidaknya bisa ditata atau ditertibkan. Dengan ukuran jaring yang sesuai aturan. Dengan begitu, ikan-ikan kecil tidak ikut terangkat.

Salah satu anggota Komunitas Peduli dan Lindungi WGM sekaligus pehobi mancing yang enggan disebutkan namanya menambahkan, kondisi WGM saat ini jauh berbeda dibandingkan tiga tahun lalu.

"Dulu, nggak perlu sewa perahu ke tangah. Cukup mancing di pinggiran WGM sudah dapat banyak ikan. Sekarang, enam bulan belakangan sudah beberapa kali saya sewa perahu. Mancing ikan pun susah," kata dia.

Pria itu mengaku tidak begitu merasa dirugikan dengan keberadaan branjang apung. Nelayan kecil menurut dia lebih dirugikan. Selain itu, dia khawatir dengan ekosistem perikanan di Waduk Gajah Mungkur. (al/bun/ria)

  Editor : Syahaamah Fikria
#branjang apung #ekosistem ikan #WGM #Komunitas Peduli dan Lindungi WGM #waduk gajah mungkur