Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Branjang Apung Tambah Banyak, Pokmaswas Perikanan Wonogiri Dukung Pelarangan

Damianus Bram • Jumat, 23 September 2022 | 01:47 WIB
TAK SISAKAN IKAN: Nelayan mencari ikan di sekitar branjang apung Kalimati, Betal Lama, Kecamatan Nguntoronadi Sabtu (17/9) lalu. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
TAK SISAKAN IKAN: Nelayan mencari ikan di sekitar branjang apung Kalimati, Betal Lama, Kecamatan Nguntoronadi Sabtu (17/9) lalu. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
WONOGIRI – Pantas keberadaan branjang apung membuat waswas banyak pihak karena dapat menguras populasi ikan di Waduk Gajah Mungkur. Hasil pantauan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Perikanan Wonogiri, jumlah branjang mencapai ratusan buah.

Ketua Pokmaswas Perikanan Wonogiri Warseno menegaskan, jumlah branjang apung semakin banyak. Sebenarnya, ada aturan terkait penggunaan branjang. Namun, banyak yang melanggar. Terkait penindakan, bukan kewenangan Pokmaswas.

"Tugas dari Pokmaswas mengawasi dan menampung informasi dari para nelayan,” ujarnya, kemarin (22/9).

Pengamatan Pokmaswas, branjang tersebar di perairan WGM yang masuk wilayah Kecamatan Baturetno, Eromoko, Nguntoronadi dan Wuryantoro.

"Kalau dikumpulkan satu titik, jumlah branjang di seluruh perairan WGM mungkin ada sekitar 100 buah. Tapi kan saat ini tersebar di beberapa kecamatan itu," terang dia.

Permasalahan branjang, lanjut Waseso, sudah mencuat sejak lima tahun terakhir. Sempat dilakukan audiensi antara nelayan dan pemasang branjang. Tapi, hingga kini, belum ada titik temu.

Apa harapan para nelayan di WGM? Warseno menuturkan, aturan tentang pemasangan branjang apung harus ditegakkan. Selain itu, penempatan posisi tidak di sembarang tempat.

"Hasil tangkapan nelayan berkurang. Belum lagi masalah gulma dan branjang yang dirasa teman-teman nelayan mengganggu. Ada yang per hari cuma dapat Rp 30-40 ribu (hasil dari jual ikan tangkapan)," jelasnya.

Bukan hanya branjang, nelayan juga mengeluhkan penangkapan ikan yang tak ramah lingkungan, yaitu menggunakan jaring garuk atau jaring keruk dengan lubang relatif kecil sehingga anakan ikan ikut terangkut.

Lebih lanjut diterangkan Warseno, anggota komunitas yang peduli dengan WGM terdiri dari pedagang, nelayan dan elemen lainnya berharap penggunaan branjang tegas diterapkan di perairan WGM.

"Mereka menilai, penggunaan branjang menimbulkan kecemburuan pendapatan dan merusak ekosistem WGM," tegasnya. (al/wa/dam) Editor : Damianus Bram
#branjang apung #Pokmaswas Perikanan Wonogiri #Branjang Apung di WGM #Berantas Branjang Apung