Kepala Desa (Kades) Ngambarsari Fitri Hanany menjelaskan, kera ekor panjang kerap merusak tanaman jagung. Biasanya, kawanan kera tersebut menyerang saat lahan tidak ditunggui pemiliknya.
“Padahal sudah dijaga dari pagi sampai sore. Biasanya itu menyerang saat tidak dijaga. Terutama ketika ada warga yang meninggal dan ditinggal takziah,” terang Fitri.
Diperkirakan, serangan kera liar tersebut sudah terjadi sejak 2005 silam. Pernah pada 2007, diupayakan pengurangan populasi kera liar dengan dibantu suku Badui. Namun, upaya tersebut tak membuahkan hasil.
“Jadi warga kami sekarang jarang yang menanam jagung. Karena tiap hari harus ditunggi. Bahkan tanaman rumput untuk pakan ternak, pucuknya juga dimakan kera. Sekarang warga beralih menanam empon-empon,” imbuhnya.
Kuat dugaan, serangan kera liar tersebut karena persediaan pangan di hutan habis. Atas koordinasi dengan Perhutani, dilakukan penanaman ribuan bibit buah. Ribuan bibit tersebut berasal dari bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri. Rinciannya, 1.160 rumput vetiver, 40 bibit mangga, 120 bibit alpukat, 150 bibit jambu biji, dan 340 bibit rambutan.
“Kami juga dibantu sekitar 200 bibit jambu mete dari Perhutani. Penanaman melibatkan 1.100 warga. Masing-masing membawa tiga sampai empat bibit. Ada juga yang menanam bibit murbei, kelapa, talok, dan sebagainya. Semuanya gotong royong,” bebernya.
Setelah penanaman, dilanjutkan perawatan bibit pada 18 Desember. Disusul perawatan rutin tiap bulan. Menanam mudah, yang sulit merawatnya. Dan pihak desa kesulitan menganggarkan untuk ketahanan pangan. Karena serangakn kera kerap merusak ladang warga,” paparnya.
Fitri berharap, penanaman bibit buah ini bisa mengurangi serangan kera liar. Mengingat sumber makanan mereka sudah tersedia di hutan. “Semoga bibit yang kami tanam bisa tumbuh subur. Kawanan kera liar punya bahan makanan sendiri. Tidak lagi turun ke lahan pertanian warga,” harapnya. (al/fer/dam) Editor : Damianus Bram