Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Video Perempuan Ngamuk Protes Bansos di Kecamatan Manyaran Viral, Ini Kronologinya

Syahaamah Fikria • Jumat, 2 Desember 2022 | 23:59 WIB
Widiyatin (kanan) di rumahnya Lingkungan Trukan RT 02 RW 02 Kelurahan Pagutan, Kecamatan Manyaran, Jumat (2/12). (IWAN ADI L/RADAR SOLO)
Widiyatin (kanan) di rumahnya Lingkungan Trukan RT 02 RW 02 Kelurahan Pagutan, Kecamatan Manyaran, Jumat (2/12). (IWAN ADI L/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Video seorang perempuan ngamuk dan protes kepada petugas di Kecamatan Manyaran, Wonogiri, viral di media sosial. Dalam video tersebut, perempuan paro baya itu memprotes bantuan sosial (bansos) yang malah diberikan kepada orang-orang  mampu. Sementara warga tak mampu malah tidak mendapat bansos.

Diketahui, perempuan yang melakukan protes dalam video itu itu adalah Widiyatin, 57, warga Lingkungan Trukan RT 02 RW 02 Kelurahan Pagutan, Kecamatan Manyaran. Aksi protes itu dilakukannya pada Rabu (30/11) lalu. Dia mengayuh sepeda onthel dari rumahnya ke Kantor Kecamatan Manyaran yang jaraknya sekitar 3 kilometer selama 30 menit.

Saat ditemui di kediamannya Jumat (2/12), Widiyatin menceritakan awal mula dia bisa sampai ke Kantor Kecamatan Manyaran dan melakukan protes. Saat itu, Saginem, ibu Widiyatin kehabisan minyak gosok dan merasa pusing.

"Setelah itu saya cari utangan dari orang-orang yang baru saja dapat bansos. Saya mau utang Rp 10 ribu juga tidak boleh. Saya sudah bilang, besok mau saya jualkan ayam (untuk bayar utang,Red)," kata dia.

Namun, Widiyatin hanya menerima kekecewaan karena gagal mendapatkan pinjaman uang. Dia pun mulai mempertanyakan, mengapa orang lain yang dianggapnya lebih mampu bisa mendapatkan bansos. Tapi, dia yang benar-benar membutuhkan malah tidak dapat bansos.

"Mungkin saat itu ada setan masuk. Akhirnya saya ke kecamatan," kata Widiyatin.

Sebelum dia melakukan protes yang videonya menjadi viral itu, Widiyatin mengaku sempat bertanya terkait siapa yang berhak menerima bansos.  Kemudian diberi penjelasan jika yang mendapatkan bansos adalah orang miskin dan orang yang membutuhkan.

Dia pun akhirnya masuk ke area pembagian bansos. "Di situ petugasnya saya unek-unekke. Saya memang marah-marah waktu itu. Intinya, saya marah kenapa yang dapat kok yang sugih-sugih. Yang membutuhkan kan banyak. Misalnya anak yatim. Saya memang orang nggak punya tapi saya mandiri, ora njagakke. Pas dapat bantuan juga, saudara saya, saya beri," papar dia.

Widiyatin mengaku dulunya juga sempat mendapat bansos dari pemerintah. Pernah menerima bansos berupa uang tunai maupun beras. Namun seingatnya, saat pandemi Covid-19 bansos itu sudah tak didapatkannya lagi. Selain itu, dia juga mengaku bantuan beras yang diterima tidak diberikan seluruhnya.

"Pernah dapat bantuan dari pemerintah, tapi sekarang sudah nggak lagi. Mungkin bukan rezekinya, siapa tahu kemarin dapat karena ndilalah kesasaran dapat bantuan," kata dia.

Widiyatin mengaku tak mengetahui bahwa videonya saat protes di kantor kecamatan menjadi viral. Bahkan dia sebenarnya tak tahu apa arti dari viral. Dia mengetahui hal itu saat ada pemuda yang memberitahukan kepadanya.

Setelah video viral itu, banyak yang mendatangi rumah Widiyatin untuk memberikan bantuan. Bahkan jajaran Koramil dan Polsek setempat juga memberikan bantuan.

"Saya tidak mengira bisa dapat bantuan. Saya itu ke kecamatan niatnya tidak mau minta bantuan. Cuma menyampaikan unek-unek saya saja ke pengurus bantuan. Ya pangapunten," ucap dia.

Yang jelas, kata dia, harapannya adalah bansos bisa diberikan kepada orang yang tepat. Jangan sampai orang kaya ingin menjadi orang miskin hanya demi mendapatkan bansos.

Sementara itu, beredar kabar bahwa Widiyatin adalah orang dengan gangguan jiwa. Namun kabar itu ditepis keluarga Widiyatin.

"Bukan. Kondisinya sehat," kata Legiyem, kakak kandung Widiyatin.

Lurah Pagutan Gatot Dwiyono mengatakan, tidak semua informasi yang beredar di media sosial benar. Diakui dia, Widiyatin pernah mendapatkan bansos.

"Di satu KK, ada tujuh anggota keluarga. Bu Widiyatin pernah dapat bansos," ujar dia

Sementara itu, Camat Manyaran Toto Tri Mulyarto mengatakan, Widiyatin melakukan protes saat kegiatan pembagian bansos. Sudah ada jadwal pembagian bansos untuk warga penerima di setiap desa/kelurahan.

"Rabu kemarin saat penyaluran bansos untuk warga Desa Gunungan. Kalau untuk Kelurahan Pagutan, penyalurannya pada Senin (28/11) lalu. Saat itu, ada tiga jenis bansos yang disalurkan, yakni BLT BBM, BPNT dan PKH," kata dia.

Toto mengatakan, saat protes Widiyatin itu terjadi, dia sedang menghadiri undangan di pendapa rumah dinas bupati Wonogiri. Meski begitu, dia akhirnya mendapatkan laporan terkait hal tersebut.

Setelah dirunut, diketahui Widiyatin pernah mendapatkan bansos. Bansos yang didapatkan adalah program keluarga harapan (PKH) pada 2016 hingga 2021. Selain itu, Marsusiati, keponakan yang masih satu KK dengan Widiyatin juga pernah mendapatkan bansos.

"Tahun 2022 Bu Widiyatin nggak dapat bansos karena dari data BNBA (by name by address penerima bansos) tidak keluar namanya. Kita kan mengeksekusi data BNBA dari pusat," terang camat.

Toto menuturkan, sebenarnya kelurahan juga telah mengusulkan nama Widiyatin . Hanya saja, nama Widiyatin tak muncul dari BNBA penerima bansos dari pusat.

"Kita di wilayah bersama RT dan RW saat ada warga yang patut untuk diusulkan mendapatkan bansos, pasti diusulkan. Tapi validasi dari pusat kita tidak tahu bagaimana," ucap Toto.

Soal pernyataan Widiyatin yang menyebut penerima bansos adalah orang yang lebih mampu, Toto mengatakan hal tersebut relatif. Bukan berarti orang yang memiliki mobil mendapatkan bansos.

"Dikatakan mampu (oleh Widiyatin) meski disparitasnya nggak jauh kan sebenarnya ada indikatornya," kata dia.

Selain itu, diketahui Widiyatin pernah mendapatkan bansos BPNT. Berdasarkan catatan kecamatan, Widiyatin mendapatkan bansos itu hingga Mei 2022.

Terkait pernyataan Widiyatin yang merasa jatahnya dikurangi, pihaknya bakal melakukan kroscek. Apakah memang benar seperti itu atau hanya asumsi dari Widiyatin.

"Kita kroscek dulu itu. Apa hanya asumsi beliau atau tidak. Kalau ada warga yang merasa seperti itu, melapor saja ke kita nggak apa-apa. Silakan dilaporkan kepada kami," kata Toto.

Sementara itu, Toto juga menyatakan bahwa Widiyatin bukanlah ODGJ. Pasalnya saat dia bertemu, Widiyatin bisa berkomunikasi dengan lancar. Selain itu, tidak ada bukti medis bahwa Widiyatin adalah ODGJ. (al/ria) Editor : Syahaamah Fikria
#viral #Widiyatin #protes bansos #Kecamatan Manyaran #video perempuan ngamuk