Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Desa/Kecamatan Paranggupito Buka Lapangan Pekerjaan Baru

Damianus Bram • Sabtu, 17 Desember 2022 | 15:00 WIB
NGURI-URI BUDAYA: Tari reog jaranan Wukir Kencono dalam Festival Tumangkar di Desa/Kecamatan Paranggupito, Mei lalu. Foto bawah, perform anak-anak sanggar tari. (KADES PARANGGUPITO FOR RASO)
NGURI-URI BUDAYA: Tari reog jaranan Wukir Kencono dalam Festival Tumangkar di Desa/Kecamatan Paranggupito, Mei lalu. Foto bawah, perform anak-anak sanggar tari. (KADES PARANGGUPITO FOR RASO)
RADARSOLO.ID - Desa/Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri menyimpan sejumlah potensi andalan. Selain dianugerahi keindahan pantai, juga memiliki kesenian dan budaya khas. Potensi-potensi ini coba diangkat, dengan memberdayakan masyarakat sekaligus memutus mata rantai pengangguran.

Terletak di tepi Samudra Hindia, Desa Paranggupito memiliki sederet pantai nan eksotis. Sebut saja Pantai Dadapan, Njojogan, Klothok, dan paling timur adalah Pantai Sembukan. Menariknya, semua pantai tersebut memiliki karakteristik berpasir putih. Menjadi magnet yang bisa menggaet kunjungan wisata.

“Wilayah kami sudah menjadi desa wisata sejak 2020 lalu. Desa Wisata sangat menjanjikan dan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Termasuk berwirausaha,” ungkap Kepala Desa (Kades) Paranggupito Dwi Hartono, Jumat (16/12).

Selain itu, Desa Paranggupito juga memiliki potensi seni budaya yang tak kalah menawan. Pantai Sembukan misalnya. Terdapat ritual Larung Agung yang rutin digelar tiap tahun. Tepatnya tiap malam 1 Sura (penanggalan Jawa).

Potensi kesenian lain yang sedang digali Pemerintah Desa (Pemdes) Paranggupito, salah satunya kerajinan kuda kepang. Bahkan tiap KK di desa ini, memiliki kuda kepang di rumahnya.

“Sebelum saya menjabat kades, dulunya sekretaris desa. Saat itu sering kunjungan ke desa wisata di daerah lain.Dari situ saya lihat desa wisata mampu mengangkat derajat masyarakat. Termasuk meningkatkan pendapatan asli desa (PADes),” imbuh Dwi.

Tahun ini, potensi seni dan budaya kembali digelorakan pascapandemi Covid-19. Tak tanggung-tanggung, dua event besar sekaligus. Mulai dari Festival Tumangkar yang digelar Mei. Disusul Festival Gelaran pada Agustus.

Festival Tumangkar diisi gelaran karawitan anak-anak Yoga Laras, tari Wanoro dan flashmob, tari Manuk Dadali, tari Kreasi Paijo, reog jaranan Wukir Kencono, Laras Madyo, jathilan Pujonggo Mudo Klasik, termasuk lagu-lagu dolanan. Termasuk pergelaran wayang kulit dan ruwatan.

“Melalui festival ini, UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) desa kami mulai menggeliat. Karena kami beri kesempatan semua UMKM untuk mengisi stand. Ada yang jualan aneka makanan tradisonal seperti legondo, cucur, dan sebagainya,” ungkap Dwi.

Ke depan, Dwi berniat mewadahi seni budaya di desanya dengan membangun sebuah tempat khusus. Di tempat itulah warga setempat, terutama pelaku seni dan budaya, diberi kesempatan untuk manggung.

“Harapan kami, agar Desa Paranggupito semakin maju. Tak hanya dari wisata pantainya, tapi juga dari seni dan budaya. Dibarengi dengan mengangkat potensi semua UMKM di sini,” beber Dwi. (al/fer) Editor : Damianus Bram
#Pantai di Paranggupito #Pantai Njojogan #pantai sembukan #Desa Paranggupito #Ritual Larung Agung #Pantai Dadapan #Kecamatan Paranggupito #Pantai Klothok