Diketahui, anggaran JUT tahun ini meningkat. Sebagai upaya membangun JUT melalui pola padat karya.
“JUT sudah dianggarkan Rp 8 miliar tahun ini. Nanti dikerjakan secara mandiri oleh sumber daya yang ada pada pemohon,” terang pria yang akrab disapa Jekek tersebut, Kamis (5/1/2023).
Sumber daya yang dimaksud Jekek, di antaranya kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan). Mereka digandeng untuk ikut berpartisipasi dalam program tersebut. Karena diharapkan JUT memudahkan aksesibilitas petani ke area pertanian. Sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.
Pola padat karya tersebut, diyakini akan memunculkan potensi yang dikolaborasi dalam budaya gotong royongan melalui sebuah kegiatan. Harapannya aksesibilitas di area pertanian semakin baik.
“Dengan begitu, efek selanjutnya inflasi bisa ditekan dan pertumbuhan ekonomi meningkat. Tahun lalu laju inflasi di Wonogiri hanya 1,7 persen,” imbuh Jekek.
Selain itu, Jekek berharap penyerapan anggaran APBD maupun dana desa (DD), dapat dikelola dengan baik dan transparan. “Maka uang Rp 2,4 triliun (APBD Wonogiri) dan Rp 213 miliar (dana desa) akan berputar dan dimanfaatkan masyarakat,” urainya.
Sementaar itu, tahun ini pemkab juga memprioritaskan penanganan bidang pendidikan dan kesehatan. Mengingat anggaran yang dibutuhkan di dua bidang tersebut lumayan tinggi.
Di bidang kesehatan contohnya. Pemkab Wonogiri menargetkan bisa menyelesaikan 90.000 usulan kepesertaan BPJS Kesehatan, sebagai penerima bantuan iuran (PBI). Sementara di bidang pendidikan, pemkab melaksanakan program beasiswa untuk pemuda berprestasi. (al/fer/dam) Editor : Damianus Bram