Tantangannya, jumlah KPL tak sebanding dengan jumlah desa/kelurahan.
Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan & Pangan) Wonogiri Giyanto mengatakan, tahun lalu, pemerintah pusat memberikan lima jenis pupuk bersubsidi, yaitu urea, NPK Phonska, ZA, SP36 dan Petroganik.
Namun mulai tahun ini, pemerintah pusat hanya memberikan dua jenis pupuk bersubsidi, yakni urea dan NPK. Penerima pupuk juga dibatasi.
Pupuk murah tersebut hanya boleh digunakan untuk tanaman pangan padi, jagung, kedelai, tanaman perkebunan kopi, kakao, tebu rakyat, serta tanaman hortikultura cabai, bawang merah dan bawang putih. "Tembakau tidak (tidak dapat)," beber Giyanto.
Ditambahkan Giyanto, terdapat 173 unit kios pupuk lengkap (KPL) yang tersebar di seluruh penjuru Kota Sukses. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan jumlah desa/kelurahan yang mencapai 294 desa/kelurahan. Sebab itu, KPL harus mengampu sejumlah desa/kelurahan sekaligus.
Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM (Disperindag dan UMKM) Wonogiri Wahyu Widayati menuturkan, KPL harus punya stok minimal untuk kebutuhan satu pekan, sedangkan distributor pupuk bersubsidi harus punya stok minimal untuk kebutuhan dua pekan.
Vice President Penjualan Pupuk Indonesia Wilayah Jateng DIJ Antonius Yudi berkomitmen menyediakan dan menyalurkan pupuk bersubsidi sesuai ketentuan. "Kami menjalankan penugasan, termasuk soal alokasi," ujarnya. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono