Pada Kamis malam, terdapat 180 jiwa dari 56 KK di Kelurahan Giripurwo yang mengungsi di rumah saudara dan tetangganya.
Lalu di Kelurahan Giritirto, ada 102 jiwa dari 24 KK 102 jiwa yang mengungsi. Di Lingkungan Pokoh, Kelurahan Wonoboyo, ada lima rumah yang tergenang dari luapan Sungai Jumog.
"Secara umum genangan sudah turun," ujar Camat Wonogiri Kota Fredy Sasono, Jumat.
Saat ini, sebagian warga sudah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa-sisa genangan. Menurut Fredy, banjir ini menjadi yang paling parah dibandingkan banjir-banjir sebelumnya. Selain rumah warga, ada sejumlah fasilitas umum yang ikut terdampak.
"Ada pemakaman, lapangan olahraga itu ada yang terdampak," beber Fredy.
Salah satu warga Lingkungan Sanggrahan RT 3 RW 8 Kelurahan Giripurwo Sumarno mengatakan, air mulai menggenangi permukiman warga pada Kamis (17/2/2023) sore sekitar pukul 14.00 WIB.
Menurut kakek 70 tahun itu, banjir kali ini merupakan yang paling parah. Warga di sekitaran rumahnya mengungsi ke masjid yang tidak terdampak genangan karena lokasinya lebih tinggi.
"Saya mengungsi ke masjid, tadi Subuh air mulai surut. Ada barang yang bisa diselamatkan, ya saya selamatkan," kata dia.
Ketua RT 3 RW 13 Lingkungan Kedungringin, Kelurahan Giripurwo Kardi mengatakan, banjir di wilayahnya sudah mulai surut. Sejumlah warga sudah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan rumahnya.
"Di RT ini ada 12 rumah yang kebanjiran. Lalu ada dua rumah yang airnya belum sampai masuk ke dalam," kata dia.
Sementara itu, pintu spillway Waduk Gajah Mungkur (WGM) hingga Jumat pagi masih dibuka. Kepala Sub Devisi Jasa Air Jasa Tirta III/1 Fendri Ferdian menjelaskan, air masuk ke WGM atau inflow Kamis (16/2) lalu, rata-rata 528 meter kubik per detik.
Sementara itu, outflow atau air yang dilepaskan atau dilimpaskan melalui spillway dan PLTA sebesar 280 meter kubik per detik.
Untuk elevasi air Waduk Gajah Mungkur pada Kamis (pagi), mencapai 136,99 meter. Sementara itu batas untuk siaga merah yakni 137,2 meter.
"Diupayakan tidak menambah outflow spillway mengingat Bengawan Solo siaga," kata dia. (al/ria) Editor : Syahaamah Fikria