Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Pembukaan Pintu Spillway WGM, PJT I: Demi Keamanan Bendungan

Tri wahyu Cahyono • Senin, 20 Februari 2023 | 00:22 WIB
Kondisi Waduk Wonogiri atau Waduk Gajah Mungkur Minggu (19/2). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
Kondisi Waduk Wonogiri atau Waduk Gajah Mungkur Minggu (19/2). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID-Perum Jasa Tirta (PJT) I memantau hujan lebat yang terjadi di wilayah hulu Waduk Wonogiri (Waduk Gajah Mungkur/WGM) yang terjadi pada 14-16 Februari. PJT I mengatur outflow waduk tersebut.

Pelaksana tugas (Plt) Dirut PJT I Milfan Rantawi mengatakan, pemantauan dilakukan secara realtime lewat telemetri yang dikelola Jasa Tirta I. Hasil pembacaan telemetri Automatic Rainfall Record (ARR), diketahui curah hujan di wilayah Wonogiri mencapai 145 mm.

Sementara di Stasiun Pracimantoro curah hujan terpantau sebesar 136 mm. Di Jatisrono 281 mm, Batuwarno 168 mm, dan di eks Karesidenan Surakarta 50,6 mm.

"Curah hujan yang tinggi dan merata menyebabkan debit Sungai Bengawan Solo terus meningkat," kata dia, Minggu (19/2/2023).

Debit yang terus meningkat itu membuat masuk level siaga merah di Stasiun Jurug, Kamis (16/2/2023). Sementara itu, tingginya curah hujan di eks Karesidenan Surakarta juga menyebabkan debit Sungai Bengawan Solo meningkat drastis.

Seperti di Kali Dengkeng, debit terus meningkat menjadi 562 meter kubik per detik atau masuk siaga merah. Normalnya, debit air di sana 41 meter kubik per detik.

Lalu Kali Samin, dalam kondisi normal, debit airnya 54 meter kubik per detik. Kondisi itu naik menjadi 401 meter kubik per detik dan masuk ke level siaga merah.

"Ini tentunya mengakibatkan debit Sungai Bengawan Solo di Kota Solo ikut meningkat," kata Milfan.

Berdasarkan hasil pembacaan telemetri di pos pemantauan Jurug Solo pada 14-16 Februari tercatat naik dari 204 meter kubik per detik (kondisi normal) menjadi 1.596 meter kubik per detik (siaga merah).

Menurut Milfan, peningkatan debit ini secara proporsional merupakan kumulatif dari aliran Kali Dengkeng 562 meter kubik per detik atau 35 persen dari total debit. Lalu Kali Samin 401 meter kubik per detik atau sekitar 25 persen.

Sementara itu, outflow WGM sebesar 280 meter kubik per detik atau sekitar 18 persen. Sisanya atau 22 persen adalah limpasan air permukaan lainnya.

Milfan menerangkan, kondisi itu juga terjadi di hulu Sungai Bengawan Solo. Peningkatan curah hujan di catchment Waduk Wonogiri sejak 14-16 Februari berdampak naiknya elevasi muka air WGM.

"Naik dari +135,11 meter menjadi +137,00 meter. Elevasi ini lebih tinggi 3,35 meter dari kondisi normal sesuai pola yakni +133,65 m," terang dia.

Atas hal itu, PJT I berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS)untuk melakukan pengendalian elevasi muka air WGM. Dengan penambahan outflow waduk secara bertahap, dari 50 meter kubik per detik menjadi 280 meter kubik per detik.

WGM memiliki fungsi krusial dalam pengendalian banjir. Ada aturan yang harus dipatuhi bersama dalam pelaksanaan operasi dan pemeliharaan.

Saat tinggi muka air mencapai siaga hijau (elevasi +135,30 m), maka secara bertahap akan dilaksanakan pelepasan air melalui pembukaan pintu spillway.

"Tujuannya untuk keamanan infrastruktur Bendungan Wonogiri dari bahaya overtopping atau pelimpasan air melalui puncak bendungan. Selain itu, juga mencegah potensi terjadinya pelepasan debit banjir yang lebih besar di daerah hilir" papar Milfan.

Outflow dari WGM sempat diturunkan pada Jumat (17/2/2023) pukul 11.00. Pihaknya juga sempat menurunkan outflow Waduk Wonogiri dari 280 meter kubik per detik menjadi 200 meter kubik per detik dan 100 meter kubik per detik pada Jumat pukul 15.30.

“Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban Sungai Bengawan Solo di bagian hilir," ujar dia.

Namun, imbuh Milfan, pada perkembangannya, elevasi waduk kembali naik hingga menyentuh level 137,07 m pada Jumat pukul 20.00. Setelah berkoordinasi dengan BPBD di wilayah eks Karesidenan Surakarta, PJT I kembali menambah outflow spillway mulai jam 21.00.

Dari semula 100 meter kubik per detik menjadi 200 meter kubik per detik. Total outflow setelah ditambah dari PLTA menjadi 250 meter kubik per detik.

"Pengendalian elevasi Waduk Wonogiri melalui pengaturan outflow ini akan terus dievaluasi kemudian dengan terus mempertimbangkan kondisi cuaca di hulu Waduk Wonogiri," kata dia.

Selain berupaya meminimalkan dampak banjir, pihaknya juga berupaya meringankan beban warga terdampak banjir dengan mendistribusikan bantuan kebutuhan pokok seperti beras, telur, minyak goreng.

"Bantuan itu diterima BPBD Wonogiri, BPBD Sukoharjo, pos pengungsi SD Joyotakan, Kota Solo, dan Desa Bener, Kecamatan Wonosari, Klaten," pungkasnya. (al/wa) Editor : Tri Wahyu Cahyono
#pintu spillway wgm #banjir #pjt 1 #WGM