Diketahui, penyakit kulit itu adalah ichthyosis lamellar. Disebut-sebut diderita 1:30.000 orang di dunia.
Kulit di sekujur tubuhnya cepat mengering dan sering terkelupas. Itu menyebabkan kulit menjadi sangat tipis hingga rawan jika terkena benturan.
Ibu Daffa, Rahning Puspitasari mengatakan, penyakit itu diderita putranya sejak lahir. Bahkan dulunya saat lahir, lebih parah. "Penyebabnya belum diketahui kenapa," katanya, Jumat (24/2).
Menurut Rahning, karena kondisi itu, Daffa kerap kali merasa kegerahan. Apalagi saat cuaca sedang terik.
Jika sudah begitu, Daffa biasanya mencuci mukanya. Itu membuat kulitnya agak lembab. "Pas (cuaca) panas, bagian (telapak) kaki ada yang pecah-pecah (kulitnya). Kalau jalan jinjit karena sakit," kata dia.
Orang tuanya juga harus lebih mengawasi Daffa. Pasalnya, kulitnya yang rawan saat digaruk terlalu keras bisa terluka dan berdarah.
Daffa juga harus menjalani pengobatan rutin ke RSUD Dr Moewardi, Kota Solo.
Beruntung empat bulan belakangan, ada dermawan yang menanggung biaya transportasi Daffa saat kontrol. Sebelumnya Rahning harus mengeluarkan biaya sendiri.
Itu belum termasuk obat. Sebab tak semua obat Daffa tercover BPJS, misalnya saja salep. Sehingga, Rahning setiap bulan harus menyisihkan uang setidaknya Rp 800 ribu untuk menebus obat anaknya itu.
"Alhamdulillah, dalam kesehariannya, Daffa tidak minder, tidak takut juga. Teman-temannya juga support, mau mengajak main seperti biasa," kata dia.
Sementara itu, Daffa nampak malu-malu saat ditemui usai sekolah. Meski begitu, dia menjawab sejumlah pertanyaan. Dia baru saja mengikuti pelajaran Bahasa Jawa. Selain itu juga PJOK.
"Suka bermain bola sama teman-teman," kata siswa kelas III SDN IV Pagutan itu. Daffa juga tak ketinggalan bermain lato-lato yang sedang tren. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono