Kepala Sub Devisi Jasa Air Jasa Tirta III/1 Fendri Ferdian mengatakan, pintu spillway WGM dibuka karena siaga. Hal itu juga sudah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang ada.
"Sejak (dibuka) 14 Februari lalu, pintu spillway belum ditutup. Limpahan air ke Bengawan Solo disesuaikan dengan elevasi di waduk," ujar dia, Senin (27/2).
Pada Senin pukul 14.00, elevasi Waduk Gajah Mungkur masuk dalam siaga kuning. Untuk ketinggian air mencapai 136,63 m SHVP.
Debit air dari pintu spillway sebesar 180 meter kubik per detik. Sementara limpasan air dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di WGM memiliki debit 58 meter kubik per detik. Total air yang dikeluarkan dan masuk ke aliran Sungai Bengawan Solo dari waduk mencapai 238 meter kubik per detik.
Sebagai informasi, kondisi waduk dikatakan siaga hijau jika ketinggian air mencapai 135.30 mdpl. Sementara siaga kuning jika ketinggian air mencapai 136.00 mdpl. Waduk berstatus siaga merah jika ketinggian air mencapai 137.20 mdpl.
Fendri mengimbau agar selama musim penghujan, masyarakat tidak melakukan kegiatan di badan sungai. Sebab, sewaktu-waktu dapat terjadi kenaikan debit Bengawan Solo.
"Kami selalu berkoordinasi dengan lembaga terkait seperti BPBD (saat ada peningkatan outflow,Red)," kata Fendri.
Terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri Teguh Setiyono juga meminta masyarakat untuk selalu waspada dengan potensi yang mungkin terjadi. Pada kondisi tertentu, ketika air dari waduk meluap, early warning system (EWS) akan berbunyi.
"Selama ini mekanismenya koordinasi ketika ada peningkatan outflow (spillway). PJT memberitahu BPBD dan turun ke masyarakat di sekitar bantaran Sungai Bengawan Solo," kata dia.
Teguh menambahkan, BPBD juga menginformasikan terkait outflow Waduk Gajah Mungkur kepada jejaring yang ada. Misalnya camat, lurah, RW dan RT yang rawan terdampak demi langkah antisipasi. (al/ria) Editor : Syahaamah Fikria