Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Ikan Red Devil di WGM Salah Satu Sumber Munculnya Louhan

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 25 April 2023 | 18:37 WIB
Pemancing di perairan Waduk Gajah Mungkur kerap mendapatkan red devil. Populasi ikan predator ini disebut-sebut semakin pesat.IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO
Pemancing di perairan Waduk Gajah Mungkur kerap mendapatkan red devil. Populasi ikan predator ini disebut-sebut semakin pesat.IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO
RADARWONOGIRI.COM-Red devil kembali ditegaskan bukan spesies asli Waduk Gajah Mungkur (WGM) dan bukan ikan dengan habitat asli dari Indonesia. Terus asalnya dari mana?

“Aslinya dari negara Amerika Tengah seperti Nikaragua dan Kosta Rika,” terang Rikho Jerikho, pemerhati ikan.

Beberapa waktu lalu, publik juga dikejutkan dengan adanya red devil di Danau Toba, Sumaetra Utara. Populasi ikan itu sangat banyak di sana.

Rikho menerangkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan, dulunya banyak red devil berwarna merah. Namun penelitian secara umum, pada genus amphilopus terdapat banyak spesies.

Menurut salah seorang perintis Project Ichthys-Alien Indonesia (sebuah project penelitian ikan air tawar di Indonesia) itu, red devil dibawa ke Indonesia dan negara lain di Asia Tenggara karena adanya tren ikan louhan. Ada kemiripan bentuk antara ikan tersebut.

“Tahun 2000-an ikan louhan naik daun. Ikan louhan ini adalah hibrid, disilangkan antara spesies satu dengan lain. Nah, salah satu sumber atau orang tua louhan ini adalah amphilopus juga, si red devil ini,” kata dia.

Ada kemungkinan, saat tren louhan naik, ada permintaan pasar dengan bentuk seperti louhan. Itu untuk kebutuhan ikan hias. Namun ternyata peminatnya tak sebanyak louhan.

Sayangnya, kata Rikho, breeding ikan yang cepat tak berbanding lurus dengan permintaan pasar. Peminat red devil lebih sedikit dibandingkan louhan.

“Dugaan saya jadi overflow. Red devil dibiarkan saja tak ada harganya, lalu karena bosan, terlepas atau dilepaskan di perairan umum. Itu kemungkinan jalur masuk pertama, dari jalur ikan hias,” ungkap Rikho.

Selanjutnya ada kemungkinan jalur masuk kedua lewat karamba jaring apung. Ada kemungkinan karena proses seleksi bibit yang kurang baik atau ada kontaminan bibit red devil tercampur bersama ikan nila.

“Saat masih kecil, memang sangat mirip bentuknya dengan ikan nila. Bisa juga karena saat pembibitan kolam red devil dan nila berdekatan hingga berpindah. Besar kemungkinan red devil masuk ke kolam ikan nila,” kata dia.

Secara fisik, red devil mirip dengan ikan nila. Namun pada red devil tidak ada garis-garis di sirip ekornya (pada ikan nila ada garis-garis). Selanjutnya, warna red devil saat dewasa cenderung oranye hingga keemasan. Ada juga yang berwarna merah. “Mirip nila, tapi tidak bisa besar sebesar ikan nila,” terangnya.

Rikho menuturkan, ada banyak kemungkinan bagaimana red devil bisa masuk ke perairan WGM. Hal itu masih perlu dikaji lebih jauh. “Saat saya mengambil data sekitar tahun 2017 sampai saat ini, orang yang dapat red devil makin banyak. Kalau dulu di sekitar karamba, sekarang mulai ditemui juga di pinggiran. Entah karena populasinya semakin banyak atau apa,” beber dia.

Jika memang populasi red devil semakin banyak, menurut Rikho itu bukan hal yang bagus. Sebab, bisa berpengaruh terhadap populasi ikan-ikan yang ada di WGM. Baik spesies asli seperti wader, betutu dan sogo ataupun yang bukan spesies asli seperti ikan nila.

“Ikan-ikan itu bisa terdegradasi. Karena red devil tercatat memakan telur dan larva ikan kecil,” ucapnya.

Lebih jauh, Rikho menjelaskan, tak hanya red devil yang bisa mengganggu populasi spesies ikan asli di WGM. Sebab, juga telah ditemukan parachromis managuensis (ikan jaguar) dan juga piaractus brachypomus yang notabene merupakan ikan predator.

Lalu bagaimana cara mengendalikan populasi red devil? Rikho mengatakan, bisa digelar kegiatan rekreasi lomba memancing ikan invasif. Hasilnya, dikumpulkan dan di data secara rinci. Misalnya ukuran terbesarnya dan bisa diteliti oleh peneliti. Walaupun untuk pemusnahan sangat sulit, populasi bisa dikontrol terlebih dahulu.

“Semisal warga memancing dan mendapatkan red devil, sebaiknya tetap dibawa pulang,” tutur dia. (al/wa)

  Editor : Tri Wahyu Cahyono
#habitat #ikan red devil #ekosistem #ikan air tawar #WGM #waduk gajah mungkur