Pasutri tersebut adalah Mulyoko, 37, dan Siti Aprilia Ramadani, 33, Warga Dusun Pare RT 02 RW 03 Desa Pare, Kecamatan Selogiri. "Domba dorper dan awassi akan di-breeding di Wonogiri. Kami sudah punya 12 ekor pejantan fullblood (darah murni). Kami membidik untuk mengembangkan aslinya," ujar Mulyoko.
Kenapa memilih domba dorper dan awassi? Mulyoko menyebut, domba jenis ini lebih berbobot dan tahan penyakit. "Bobot maksimalnya bisa sekira 130-150 kilogram per ekor," jelasnya.
Soal harga, domba dorper fullblood berkisar Rp 30-40 juta per ekor, sedangkan domba awassi fullblood bisa mencapai Rp 40 juta per ekor. Domba-domba kualitas super tersebut telah dilengkapi dengan sertifikat.
Mulyoko dan istrinya juga akan menyilangkan domba-domba unggul itu dengan beberapa jenis domba lainnya. Bobot domba cross (persilangan) antara dorper dengan lokal atau awassi dengan lokal masih bisa mencapai 80 kilogram per ekor. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono