Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Penyakit Leptospirosis Mengganas, Satu warga Kecamatan Jatisrono Tak Terselamatkan

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 21 Juni 2023 | 05:31 WIB
Area persawahan di Kabupaten Wonogiri. Masyarakat, khususnya petani diimbau ekstrawaspada dengan leptospirosis. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO).
Area persawahan di Kabupaten Wonogiri. Masyarakat, khususnya petani diimbau ekstrawaspada dengan leptospirosis. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO).
RADARWONOGIRI.COM-Masyarakat diwanti-wanti mewaspadai leptospirosis yang dapat menyebar melalui urine alias kencing tikus yang terpapar bakteri leptospira. Sejak awal 2023, ditemukan puluhan kasus penyakit itu. Satu pasien di antaranya meninggal dunia.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri Satyawati Prawirohardjo mengatakan, periode Januari-Mei 2023 tercatat 49 kasus leptospirosis di Wonogiri. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan pada periode yang sama di 2022.

"Tahun lalu, sepanjang Januari sampai Mei ada 12 kasus," ujar Satyawati, Selasa (20/6).

Sebanyak 49 kasus yang ditemukan sejak awal tahun ini tersebar di sejumlah kecamatan, yakni Jatisrono (10 kasus), Slogohimo (7 kasus) Wuryantoro (5 kasus), Manyaran (5 kasus), Jatipurno (4 kasus).

Berikutnya Purwantoro (4 kasus), Kismantoro (3 kasus), Bulukerto (3 kasus), Eromoko (2 kasus), Jatiroto (2 kasus), Baturetno (1 kasus), Karangtengah (1 kasus), Pracimantoro (1 kasus) dan Girimarto (1 kasus).

"Dari 49 kasus sejak awal tahun ini, ada satu kasus kematian akibat leptospirosis. Untuk periode yang sama di tahun lalu, tidak ada yang meninggal dunia," kata Satyawati.

Wanita yang akrab disapa Watik itu menerangkan, kasus kematian terjadi di wilayah Kecamatan Jatisrono, yakni petani berusia 80 tahun. "Berdasarkan penelusuran, ada catatan yang bersangkutan sebelumnya menangkap tikus tanpa APD (alat pelindung diri)," terang Watik.

Menurut Watik, rata-rata kasus leptospirosis di Wonogiri adalah penderitanya diduga terpapar usai beraktivitas di area persawahan. Namun, juga ada sebagian kecil kasus yang diduga terpapar di rumah.

Penyebab kenaikan kasus leptospirosis? Watik mengatakan, adanya potensi pertambahan populasi tikus. Sebab di luar negeri seperti di Prancis, diketahui ada ledakan populasi tikus.

Diduga, suhu atau iklim (faktor alam) saat ini mendukung peningkatan populasi tikus. Sementara itu, minimnya pemangsa tikus seperti ular membuat tikus merajalela.

"Gropyokan tikus sebenarnya dianjurkan. Tapi kami di Wonogiri belum melakukan. Kami evaluasi peningkatan kasus leptospirosis di 2023. Penanganan dilakukan lintas sektoral," terangnya.

Mengantisipasi leptospirosis di area persawahan, warga bisa menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa sepatu boot atau sarung tangan. Sementara untuk pencegahan di rumah, bisa meminimalkan potensi terpapar kencing tikus di alat makan dan makanan.

Caranya dengan menutup dan mengamankan alat makan dan makanan dari jangkauan tikus. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus diterapkan. "Di rumah juga bisa dilakukan pemasangan perangkap tikus. Lebih aman dengan perangkap dibandingkan racun tikus," pungkas Watik. (al/wa) Editor : Tri Wahyu Cahyono
#leptospirosis #pasien leptospirosis meninggal dunia #kencing tikus #leptospirosis di wonogiri