Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri Satyawati Prawirohardjo mengatakan, ada sejumlah cara untuk meminimalkan potensi terpapar leptospirosis. "Salah satunya menerapkan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat)," ujarnya, Kamis (22/6/2023).
Contohnya, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. Pencegahan leptospirosis di dalam rumah bisa dilakukan dengan menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus.
Sementara saat bekerja di area persawahan, warga bisa mengenakan sepatu boot dan sarung tangan. Usai itu, juga mencuci tangan dan kaki dengan bersih. “Edukasi sudah dilakukan teman-teman di lapangan,” terang Watik, sapaan akrab Satyawati.
Masyarakat harus teredukasi tentang leptospirosis. Dengan begitu bisa melakukan pencegahan dan mengenali gejalanya. Saat gejala bisa dikenali, maka pasien dapat segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
Terkait temuan 49 kasus leptospirosis dan satu kasus kematian sepanjang Januari-Mei 2023, Watik menuturkan, dengan jumlah kasus yang ada dan satu kasus kematian, berarti penanganan Leptospirosis sudah baik. "Penanganannya berarti sudah baik. Yang meninggal juga usianya sudah 80 tahun. Siapa tahu ada komorbid," tuturnya.
Terpisah, Camat Jatistrono Yohanes Trisnadi Tulus mengatakan, pemberantasan tikus di area persawahan yang merupakan wilayah rawan paparan leptospirosis, masih dalam tahap koordinasi. "Kalau mau gropyokan, belum bisa dilakukan. Sebab, ada yang sudah panen dan masih tanam," kata dia.
Yang jelas, pihak Kecamatan Jatisrono telah berkoordinasi dengan berbagai instansi di tingkat kecamatan. Hal itu untuk menekan jumlah kasus leptospirosis di wilayah setempat. Salah satunya dengan mengedukasi masyarakat terkait leptospirosis beserta cara pencegahannya.
Diketahui, selama periode Januari-Mei 2023 tercatat 49 kasus leptospirosis di Wonogiri. Satu pasien warga Kecamatan Jatisrono meninggal dunia karenanya. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono