Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sebagian Anak di Pracimantoro Kehilangan Rasa Berinteraksi, Gugah dengan Festival Kampung Bocah

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 4 Juli 2023 | 23:51 WIB
Anak-anak mengikuti lomba permainan tradisional dalam Festival Kampung Bocah di Balai Desa Sedayu, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Sabtu-Minggu (1-2/7/2023). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
Anak-anak mengikuti lomba permainan tradisional dalam Festival Kampung Bocah di Balai Desa Sedayu, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Sabtu-Minggu (1-2/7/2023). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
RADARWONOGIRI.COM-Tergesernya permainan tradisional oleh gadget membuat masyarakat Desa Sedayu, Kecamatan Pracimantoro prihatin. Sebab itu, mereka berinisiatif menggelar Festival Kampung Bocah di balai desa setempat.

Kepala Desa Sedayu Aisyah Manis Gayatri didampingi penggagas Festival Kampung Bocah Faris Wibisono menjelaskan, Festival Kampung Bocah digelar, Sabtu-Minggu (1-2/7/2023). Kegiatannya antara lain lomba, pentas seni, wayang kontemporer, reog anak hingga permainan tradisional.

Aisyah menerangkan, di desa tersebut berdiri enam PAUD, empat SD, satu SMP dan satu MTs. Hal tersebut menjadikan desa setempat paling banyak memiliki lembaga pendidikan di wilayah Kecamatan Pracimantoro.

"Kami gelar lomba permainan tradisional juga. Sebab, banyak anak sekarang yang lebih terlena oleh gadget," ujarnya belum lama ini.

Permainan tradisional yang dilombakan yakni bekelan, cikcok, dakon, engklek drop, engklek malingan, dan tigan. Tidak sedikit anak yang belum mengetahui permainan tersebut. Mereka juga seperti kehilangan rasa dalam berinteraksi. "Rasa dalam berinteraksi ini dimunculkan melalui permainan tradisional," katanya.

Faris Wibisono menambahkan, Festival Kampung Bocah turut dimeriahkan pertunjukan wayang kertas dengan dalang Agung Bastian yang merupakan perajin wayang kertas.

Sedangkan pengiringnya menggunakan gitar dan alat musik berbasis Android. Hal itu untuk menunjukkan bagaimana beradaptasi terhadap perubahan.

"Lakon yang dibawakan berupa seorang warga bernama Lik Karyo mengeluhkan biaya pendidikan kepada kepala sekolah. Namun, kepala sekolah melihat pendidikan hanya sebagai proyek. Kepala sekolah pun kemudian diingatkan berbagai pihak untuk harus saling bersinergi," papar Faris.

Sebelumnya, sarasehan tentang parenting juga digelar di desa tersebut pada, 25 Juni lalu. Dihadiri 300 peserta dari seluruh lembaga pendidikan dan diisi materi oleh ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Wonogiri Verawati Joko Sutopo.

"Peserta sangat antusias. Kami jadi tahu banyak kasus dialami anak, seperti bullying, asusila dan sebagainya. Untuk itu kita harus saling mengawasi dan peduli dengan lingkungan," ujar Faris. (al/wa) Editor : Tri Wahyu Cahyono
#festival kampung bocah #pracimantoro #permainan anak #Permainan Tradisional