Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Jaga Keseimbangan Alam dan Manusia lewat Labuhan Ageng di Pantai Sembukan

Iwan Adi Luhung • Kamis, 20 Juli 2023 | 01:31 WIB
Kepala sapi dan sesajen dilarung di Laut Selatan dalam Labuhan Ageng, Selasa (18/7/2023). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
Kepala sapi dan sesajen dilarung di Laut Selatan dalam Labuhan Ageng, Selasa (18/7/2023). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

 

RADARWONOGIRI.COM-Tradisi Labuhan Ageng memeringati 1 Suro di Pantai Sembukan, Desa/Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, berlangsung khidmat, Selasa (18/7/2023). Kegiatan itu menyedot antusiasme ribuan warga.

Wakil Ketua Panitia Labuhan Ageng 2023 Slamet Arifin mengatakan, dalam kegiatan itu, dilarung kepala sapi dan sesajen ke Laut Selatan.

Ada pula gunungan hasil bumi yang dibagikan kepada pengunjung maupun peserta Labuhan Ageng. "Diperebutkan di pantai," kata dia, Rabu (19/7/2023).

Labuhan Ageng diawali dengan mengarak kepala sapi, sesajen dan gunungan hasil bumi dari gapura masuk Pantai Sembukan menuju pendapa pantai setempat.

Di tempat itu digelar doa bersama. Selanjutnya, arak-arakan masuk ke area Pantai Sembukan.
Gunungan hasil bumi diperebutkan oleh peserta Labuhan Ageng, sedangkan kepala sapi dan sesajen dilarung ke laut.

Beberapa peserta Labuhan Ageng melanjutkan doa di tebing Pantai Sembukan. Hari sudah gelap saat peserta turun dari tempatnya berdoa.

Mereka menggunakan oncor dan lampu senter untuk menapaki tangga di tebing yang gelap. Ada pula pertunjukan wayang kulit di pendapa Pantai Sembukan.

"Peserta Labuhan Ageng kali ini tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu. Sekira 1.500 orang," kata Arifin.

Diungkapkan Arifin, Labuhan Ageng dilakukan secara turun temurun. Tujuan yang pertama adalah wujud syukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan.

Warga menyalakan obor untuk penerangan turun dari bukit di Pantai Sembukan usai berdoa Selasa (18/7/2023). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
Warga menyalakan obor untuk penerangan turun dari bukit di Pantai Sembukan usai berdoa Selasa (18/7/2023). (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

"Harapannya, Desa Paranggupito bisa lebih makmur dan sejahtera," ujar dia.

Dilarungnya kepala sapi, imbuh Arifin, sebagai symbol dihilangkannya sifat-sifat buruk dan aura negatif di Desa Paranggupito.

"Labuhan Ageng ini menjadi salah satu potensi di Desa Paranggupito. Kami ikutkan lomba desa wisata tingkat provinsi," jelasnya.

Kepala Desa Paranggupito Dwi Hartono menuturkan, pihaknya terus berupaya menjaga tradisi Labuhan Ageng tetap lestari.

Saat kasus Covid-19 sedang tinggi-tingginya, Labuhan Ageng digelar terbatas. Kegiatan ini kembali digelar secara terbuka mulai 2022.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri Sriyanto melalui Kabid Kebudayaan Eko Sunarso menegaskan, pihaknya memberikan dukungan stimulan untuk Labuhan Ageng dengan anggaran senilai Rp 15 juta.

“Sebenarnya dari masyarakat sudah mandiri. Kami hanya memberikan dukungan stimulan,” kata dia.

Sementara itu, sebelum Labuhan Ageng dimulai, ditampilkan pertunjukan kesenian oleh anak-anak sekolah setempat.

Eko mengatakan, itu adalah cara mentransformasi budaya kepada anak-anak agar tidak luntur.

"Labuhan Ageng seperti ini juga perwujudan menjaga keseimbangan antara alam dan manusia. Dimana alam menjaga manusia dan manusia menjaga alam," tuturnya. (al/wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#pantai sembukan #paranggupito #Labuhan Ageng #tradisi