Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Desa Kepatihan Olah Air Hujan Jadi Bisa Diminum, Boleh Ambil Gratis

Iwan Adi Luhung • Kamis, 27 Juli 2023 | 03:42 WIB
Perangkat Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri menunjukkan alat elektrolisis pemanen air hujan belum lama ini. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
Perangkat Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri menunjukkan alat elektrolisis pemanen air hujan belum lama ini. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

RADARWONOGIRI.COM-Air hujan coba dimanfaatkan untuk air minum di Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri. Tapi sebelumnya diolah dengan cara tertentu agar bisa dikonsumsi.

Kepala Desa (Kades) Kepatihan Agus Suyitno mengatakan, pihaknya mencoba membuat alat pemanen air hujan. Itu guna mengantisipasi jika terjadi kemarau berkepanjangan.

Awalnya, pihaknya belajar tentang alat pemanen air hujan dari Komunitas Banyu Bening di Jogjakarta. Di sana, pihaknya menyadari adanya manfaat luar biasa dari air hujan.

"Artinya, saat air hujan diproses dengan cara elektrolisis air, itu layak dan bisa dikonsumsi," katanya, Rabu (26/7/2023).

Agus menuturkan, pihaknya tidak membuat alat tersebut. Namun, pihaknya hanya menduplikasi alat pemanen air hujan dan elektrolisis air setelah belajar dari Komunitas Banyu Bening.

Air hujan yang ditampung dan diproses adalah air hujan pada hari kedua. Kemudian dilakukan proses pengendapan kotoran karena air hujan ditangkap lewat talang dan paralon. "Jadi air hujan yang masuk ke bejana sudah lewat penyaringan," ujar Agus.

Air kemudian melewati tahapan elektrolisis di bejana hingga menghasilkan air basa dan air asam.

"Yang biasa dikonsumsi yang basa. Kalau yang asam bisa untuk obat, tapi perlu kajian lebih lanjut dan rekomendasi dari penemunya. Kami kan duplikasi saja," tutur dia.

Desa setempat memiliki tiga penampung air hujan. Tiap penampungan berkapasitas 1.000 liter air hujan. Pengolahan air huhjan itu diberi nama Siap Gerak Elektrolisis (Sigrak) dan dilakukan sejak 2019.

"Yang ambil airnya juga ada dari luar desa. Tidak diperjualbelikan. Wong airnya juga dari Tuhan," kata dia. (al/wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#kemarau #air hujan #alat pemanen air hujan